Rabu 22 Nov 2023 02:43 WIB

Moral Camp UB Malang Bantu Perkuat Karakter Inklusif Mahasiswa

Peserta Moral Camp didorong jadi duta kampanye nilai inklusif dan perdamaian.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
 Universitas Brawijaya (UB) melalui Pusat Kajian Karakter dan Kebhinekaan memberangkatkan 30 mahasiswa terpilih dalam program Moral Camp.
Foto: Dokumen
Universitas Brawijaya (UB) melalui Pusat Kajian Karakter dan Kebhinekaan memberangkatkan 30 mahasiswa terpilih dalam program Moral Camp.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (UPT PKM) Universitas Brawijaya (UB) Malang melalui Pusat Kajian Karakter dan Kebhinekaan telah memberangkatkan 30 mahasiswa terpilih dari 285 mahasiswa yang mendaftar dan tergabung dalam program Moral Camp. 

Moral Camp 2023 kali ini mengangkat tema Menyelami Keberagaman, Menjadi Inklusif bagi Semesta. Kepala UPT PKM UB, Mohamad Anas menjelaskan, tema ini mempunyai misi strategis untuk menjadikan masyarakat yang beragama dan toleran sebagai laboratorium masyarakat.

Kemudian hal ini ditujukan untuk dapat diserap nilai-nilai toleransi dan inklusif yang sudah dipraktikkan di masyarakat. "Setelah menyelami keberagaman tersebut, para peserta Moral Camp didorong untuk mampu menjadi pribadi dan sekaligus duta untuk kampanye nilai inklusif dan perdamaian," katanya.

Adapun pada kegiatan hari pertama dimulai dengan acara penyambutan, perkenalan dan persiapan menuju rumah warga (ramah tamah) dengan didampingi tuan rumah tinggal peserta (panitia lokal), sharing, dan refleksi toleransi.

 

Pada hari berikutnya, peserta diajak untuk  berdiskusi bersama dengan tokoh agama Islam, Hindu, dan Budha dan sharing-praktik belajar seni budaya lokal di Desa Ngadas. Lalu pada hari terakhir, mahasiswa diajak explore panorama Bromo dan outbound, refleksi program, dan penyampaian RTL (Pelaporan Kemajuan Program Berbasis Project).

Menurut Anas, Desa Ngadas di Kecamatan Poncokusumo menjadi lokasi yang tepat bagi kegiatan Moral Camp. Hal ini karena adanya masyarakat yang beragam, toleran, modern, dan sekaligus inklusif.

Desa tersebut memiliki keragaman agama, antara lain Budha, Islam, dan Hindu. Praktik toleransi agama di desa ini tercermin dari berbagai bentuk.

"Misalnya tradisi unjung-unjung (tradisi mengunjungi warga setelah hari raya besar keagamaan), makam inklusif, dan kerja sama dalam pendirian rumah ibadah, dan masih banyak lainnya," jelas dia.

Anas menuturkan, desa ini menarik karena menjadikan adat sebagai simpul perekat antar agama. Beberapa tradisi dan upacara adat wajib diikuti oleh semua warga Desa Ngadas dan tidak bertentangan dengan agama.

Namun demikian, ini justru menopang satu sama lain. Sementara itu, Ketua Program Moral Camp 2023, Destriana Saraswati, berharap mahasiswa yang mengikuti program ini dapat menyelami khazanah dan kearifan praktik toleransi yang tidak kunjung habis untuk diselami.

Kemudian dapat menjadi modal yang sangat berharga bagi para peserta Moral Camp 2023. Dengan demikian, nantinya mampu meneguhkan diri menjadi pribadi yang mempunyai sikap toleran dan moderat serta mampu mewujudkan nilai inklusif bagi semesta.

Moral Camp merupakan akronim dari Merawat Religiusitas, Rasionalitas, dan Literasi. Kegiatan yang mereka lakukan yaitu dengan live-in di rumah penduduk untuk dapat lebih jauh belajar mengenai toleransi selama tiga hari.

Salah satu syarat utama mengikuti kegiatan ini adalah mahasiswa S1 UB dan diutamakan yang sedang/telah menempuh empat mata kuliah wajib kurikulum (Agama, Pancasila, Kewarganegaraan, dan Bahasa Indonesia).

Sebelum live in, para peserta telah mendapatkan pembekalan dari pemateri yang menjelaskan seluk beluk keberagaman. "Lalu teknik membuat luaran yang berupa infografis, video dan artikel, serta materi pengelolaan media sosial," kata dia menambahkan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement