Rabu 13 Dec 2023 10:23 WIB

Wilayah Rawan Bencana di Kabupaten Semarang Dipetakan Hadapi Musim Hujan

Kabupaten Semarang memiliki risiko tinggi terhadap bencana alam.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
Bencana tanah longsor (ilustrasi)
Foto: Antara/Adeng Bustomi
Bencana tanah longsor (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang mewaspadai tingginya potensi bencana alam hidrometeorologi, khususnya tanah longsor dan angin puting beliung di daerahnya, pada awal hingga puncak musim penghujan 2023/2024 nanti.

Dengan kontur wilayah yang didominasi perbukitan dan gunung, sejumlah wilayah permukiman di Kabupaten Semarang cukup rentan terhadap kedua jenis bencana hidrometeorologi alam tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan mengungkapkan, pada musim penghujan tahun ini BPBD telah memetakan sejumlah wilayah yang memiliki kerawanan terhadap bencana alam tanah longsor dan angin puting beliung.

Khususnya di wilayah Kecamatan Banyubiru, Ambarawa, Sumowono, Jambu, dan Kecamatan Getasan yang baru-baru ini sudah terjadi bencana alam longsor dan banjir bandang akibat hujan deras di puncak Gunung Merbabu.

 

“Maka langkah-langkah mitigasi dan deteksi dini ditingkatkan di sejulah wilayah tersebut melalui keterlibatan dan partisipasi warga setempat,” ungkapnya, usai mengikuti acara Apel Kesiapsiagaan Bencana Kabupaten Semarang 2023.

Dalam rangka mendukung antisipasi tersebut, masih kata Alex, pihak BPBD telah membangun koordinasi dengan TNI/Polri, lintas instansi, PMI, para relawan penanganan kebencanaan, juga masing-masing Desa Tangguh Bencana.

Termasuk menyiapkan sistem komunikasi dan informasi dalam mendukung kecpatan koordinasi, komunikasi, dan informasi seputar kebencanaan baik melalui kontak kedaruratan BPBD di nomor WhatsApp (WA).

Kemudian juga menyiapkan saluran komunikasi yang terkoneksi langsung antara tiap tiap pemerintah kecamatan, BPBD, Satpol PP, dan Damkar Kabupaten Semarang.

BPBD Kabupaten Semarang juga mengoordinasikan para relawan di masing- masing kecamatan berikut nomor kontak yang setiap saat on-call untuk mendukung kecepatan infomasi bagi penanganan kebencanaan.       

Maka seluruh potensi personel siap dilibatkan, bebagai peralatan pendukung operasi penanganan kebencanaan dan juga stakeholder terkait di level Pemkan Semarang digelar dalam apel kesiapsiagaan penanganan bencana alam kali ini.

“Kami ingin memastikan seluruh komponen ini siap mendukung BPBD Kabupaten Semarang dalam penanganan kebencanaan pada masa musim penghujan di 2023/2024 ini,” ungkap Alexander.

Terlebih, lanjutnya, berdasarkan informasi yang disampaikan oleh BMKG, puncak musim penghujan di wilayah setempat bakal berlangsung pada Februari 2024 mendatang.

Ia berharap, bencana alam tidak sampai terjadi di wilayah ini, namun manakala situasi membutuhkan, seluruh komponen telah siap dilibatkan dalam penanganan termasuk juga dengan kesiapan peralatan pendukung penanganan kebencanaan,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Semarang, H Ngesti Nugraha menyampaikan, penanganan bencana alam menjadi tanggung jawab seluruh komponen masyarakat, bukan hanya BPBD.

Menurutnya, wilayah Kabupaten Semarang memiliki risiko tinggi terhadap bencana alam, terutama tanah longsor dan angin puting beliung. “Apel kesiapsiagaan menjadi manifestasi kesiapan Pemkab Semarang dan komponen masyarakat menghadapi bencana alam,” kata dia.

Sehingga melalui kesiapan seluruh komponen ini akan dapat mengurangi dampak maupun risiko terburuk sekaligus menjadi upaya mitigasi terhadap berbagai potensi bencana alam yang cukup tinggi.

“Maka, saya juga mendorong kepada masyarakat agar terus diedukasi agar semakin tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara betindak, apabila bencana alam terjadi di lingkungan Mereka,” ungkap Ngesti.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement