Rabu 31 Jan 2024 13:53 WIB

Pemkot Yogyakarta akan Bangun Saluran Air Hujan di Sejumlah Lokasi

Pemkot Yogyakarta menerapkan konsep drainase ramah lingkungan.

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Irfan Fitrat
(ILUSTRASI) Saluran air atau drainase.
Foto: Edi Yusuf/Republika
(ILUSTRASI) Saluran air atau drainase.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berencana membangun drainase atau saluran air hujan di sejumlah lokasi. Pembangunan drainase ini diharapkan dapat meminimalkan munculnya genangan air.

Pembangunan saluran air hujan itu dilakukan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta. Menurut Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPUPKP Kota Yogyakarta Rahmawan Kurniadi, dinasnya akan membangun drainase di Jalan Kranon, Kampung Sorosutan.

Baca Juga

“Untuk tahun 2024 juga akan dibangun drainase saluran air hujan di daerah Giwangan, Kampung Mendungan RW 13. Karena sering terjadi genangan, maka kami coba untuk alirkan ke Sungai Gajah Wong,” kata Rahmawan.

Selain itu, Rahmawan mengatakan, ada pekerjaan peningkatan saluran air hujan di Jalan Kyai Mojo dan Jalan Abimanyu Sugriwa, Kelurahan Wirogunan. DPUPKP juga disebut akan merampungkan proyek strategis pembangunan saluran air hujan di Kecamatan Gedongtengen dan Kecamatan Gondokusuman. Termasuk menyelesaikan rehabilitasi sanitasi kawasan Kraton Kelurahan Patehan dan Kelurahan Kadipaten.

 

Menurut Rahmawan, dalam perencanaan drainase atau saluran air ini harus memperhitungkan berbagai hal, seperti curah hujan, tata guna lahan, dan luas daerah tangkapan air. Dengan begitu, kata dia, dimensi saluran yang dihasilkan dapat menjaga agar ruas jalan tetap kering walaupun terjadi kelebihan air, agar tidak mengganggu pengguna jalan.

Rahmawan mengatakan, di Kota Yogyakarta sudah diterapkan konsep drainase ramah lingkungan. Ia menjelaskan, air limpasan (run-off) yang masuk ke sistem drainase tidak langsung dibuang ke aliran sungai terdekat. Namun, diresapkan terlebih dulu ke tanah melalui sumur resapan yang dibangun pada sistem drainase.

Menurut Rahmawan, pada sejumlah saluran drainase dibuat titik-titik tangkap lumpur yang bentuknya berupa sumur resapan. “Jadi, lumpur-lumpur akan mengendap di sumur ini, sehingga petugas lebih mudah dalam membersihkan. Nah, masing-masing sumur resapan ini berjarak 10-15 meter,” kata dia.

Dengan konsep tersebut, Rahmawan mengatakan, diharapkan dapat menjaga konsistensi lengas tanah, meningkatkan cadangan air tanah, dan membantu menjaga kuantitas muka air tanah. “Air tidak langsung terbuang semua ke sungai, tetapi bisa meresap ke dalam tanah melalui sumur-sumur ini untuk tujuan konservasi air, sehingga kualitas air tanah di kawasan tersebut tetap terjaga,” ujar dia.

Sementara itu, pada musim hujan ini, menurut Rahmawan, DPUPKP mengintensifkan pemantauan dan perawatan saluran air guna mengantisipasi munculnya genangan atau banjir. “Secara umum genangan air di Kota Yogyakarta sudah sangat kecil. Ada beberapa genangan itu disebabkan curah hujan yang deras dalam waktu yang lama atau beberapa ruas jalan kecil di perkampungan belum memiliki drainase,” kata dia.

Rahmawan mengatakan, dinasnya menyiagakan 35 tenaga swakelola untuk menangani kejadian-kejadian insidental, kerusakan mendadak, atau terjadi genangan yang mengganggu. Tenaga swakelola itu dibagi dalam tiga tim besar, yaitu untuk penanganan pengairan irigasi, drainase atau saluran air hujan, serta masalah talud. “Mereka ini yang akan membersihkan saluran drainase jika ada laporan dari masyarakat,” katanya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement