Jumat 01 Mar 2024 09:59 WIB

Rektor: UAD Berkomitmen Menjadi Kampus Unggulan yang Hakiki

UAD berupaya membangun etos melalui nilai yang terkandung dalam tiga kata kunci.

Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Prof Muchlas (kedua kanan) bersama jajaran rektorat UAD di sela-sela agenda Press Tour di Malang, Rabu (28/2/2024).
Foto: Republika/Fernan Rahadi
Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Prof Muchlas (kedua kanan) bersama jajaran rektorat UAD di sela-sela agenda Press Tour di Malang, Rabu (28/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG — Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Prof Muchlas menyatakan dirinya dan jajarannya akan terus berkomitmen untuk menjadikan UAD sebagai institusi pendidikan yang unggul. Meskipun saat ini UAD sudah termasuk ke dalam Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) favorit, akan tetapi menurutnya keunggulannya belum hakiki.

"Mari kita mencapai keunggulan yang hakiki, alias yang sesungguhnya. Bukan hanya rangking Webometrics dan sebagainya, karena kalau itu (keunggulan-Red) hanya algoritma. Kita tidak ingin hanya seperti itu," kata Muchlas di sela-sela agenda Press Tour di Malang, Rabu (28/2/2024).

Menurut Muchlas, parameter unggul yang telah berhasil dicapai UAD perlu terus ditingkatkan. Meski secara normatif UAD telah menyandang akreditasi unggul, hal ini belum membuat Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut merasa puas. Menurutnya pencapaian secara normatif dirasa belum cukup bagi UAD. Oleh karena itu ia berkeinginan menjadikan UAD sebagai pusat keunggulan yang terus berkembang, mandiri, unggul berdasar nilai hakiki.

Mengacu pada visinya, tutur Muchlas, UAD ingin menjadi perguruan tinggi yang unggul dan inovatif, serta mengabdi kepada kepentingan bangsa dan umat manusia. UAD berupaya membangun sebuah etos melalui nilai yang terkandung dalam tiga kata kunci yaitu inovatif, profesional, dan dedikatif. 

 

Hal pertama adalah inovatif (mark of excellence) yang berarti individu atau lembaga harus memiliki keunikan dan berbeda dari yang lain. "UAD ingin menjadi perguruan tinggi yang inovatif, mengabdi pada kepentingan bangsa dan umat manusia berlandaskan pada nilai-nilai keislaman," kata Muchlas.

Yang kedua adalah profesionalisme. Hal ini berarti proses-proses panjang untuk mencapai sebuah hasil yang ingin diraih. "Profesional merupakan landasan untuk mencapai kerja-kerja inovatif untuk menuju keunggulan," katanya.

Dan yang ketiga adalah dedikatif, yaitu kerja-kerja untuk mencapai takaran ihsan yang memberi kemanfaatan bagi bangsa dan negara serta kemanusiaan secara universal.

Untuk bisa menjalankan tiga kata kunci tersebut, menurut Muchlas, harus terdapat upaya serius di antaranya adalah mengembangkan berbagai pemikiran yang berkemajuan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.

Muchlas mengatakan dari bidang sains dasar, UAD telah melakukan hilirisasi dalam menghasilkan teknologi pertahanan. Seperti rudal yang dikembangkan oleh Cirnov dan sudah disaksikan langsung uji cobanya oleh Menteri Pertahanan.

"Kita mampu mendorong teman-teman guru besar yang berdedikasi mengembangkan pusat keunggulan. Itulah yang menjadikan UAD diberi tugas oleh Kementerian Pertahanan untuk mengembangkan critical technology dengan produk berupa rudal dan sudah disaksikan oleh Menhan RI," jelas Muchlas. 

Terkait pengembangan di bidang lain seperti kesehatan, UAD juga sudah melakukan hilirisasi prodak dan terus dikembangkan lebih lanjut. Kemudian terdapat satu lagi yang memiliki potensi besar, yaitu bidang teknologi informasi. Melalui dukungan berbagai pihak, teknologi informasi bisa menjadi salah satu pusat keunggulan UAD. 

Dari semua upaya yang dilakukan UAD, tiga kunci tersebut menguatkan tekad UAD untuk jadi perguruan tinggi yang akan terus mengembangkan diri menjadi kampus yang mandiri. Berkomitmen menjaga nilai dengan penyelenggaraan proses pembelajaran berdasarkan kebutuhan masyarakat, menjaga mutu dengan memperbaiki kinerja manajemen, hingga penguatan sektor teknologi informasi. 

Muchlas mengungkapkan jika UAD ingin terus berkembang menjadi kampus yang mandiri, perlu ada skema melalui penguatan dana abadi yang disokong oleh unit-unit usaha yang kuat. Sebab, perguruan tinggi yang kuat adalah mereka yang memiliki dana abadi yang berfungsi untuk menopang seluruh kehidupan di kampus.

Ia menegaskan tidak ingin UAD menjadi institusi yang bangkrut, yaitu penerimaan mahasiswa tak terkendali namun dana abadi tidak ada, juga tidak ingin jadi perguruan tinggi yang kesusahan, dan hanya sekadar bertahan hidup saja.

"Kami ingin jadi perguruan tinggi dengan nilai-nilai yang kuat, seluruh penyelenggaraan berdasarkan demand, menjaga mutu, menjaga kinerja manajemen, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi," kata Muchlas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement