Selasa 02 Apr 2024 14:37 WIB

Pj Gubernur Jatim Klaim Harga Bahan Pokok Turun, Pasar Murah Masih Digelar

Pemprov Jatim terus memantau harga dan stok bahan pokok menjelang Lebaran.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Irfan Fitrat
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur (Jatim) Adhy Karyono.
Foto: Dok Pemprov Jatim
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur (Jatim) Adhy Karyono.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) terus memantau kondisi harga bahan pokok dan ketersediaannya menjelang Lebaran. Penjabat (Pj) Gubernur Jatim Adhy Karyono mengeklaim stok bahan pokok masih terbilang aman.

Soal harganya, Pemprov Jatim disebut sudah berupaya maksimal dalam melakukan pengendalian. “Kita monitor untuk memastikan keterjangkauan dan ketersediaan bahan makanan pokok. Ini penting. Kemudian melihat seluruh distribusi bahan pokok dan memonitor stok beras yang ada di gudang-gudang beras,” kata Adhy, Senin (1/4/2024).

Baca Juga

Adhy mengatakan, Pemprov Jatim juga menggencarkan komunikasi antardaerah agar distribusi produk bahan pangan dapat berjalan baik. Dengan sejumlah langkah yang dilakukan, ia menyebut harga bahan pokok, yang di awal Ramadhan mengalami kenaikan, berangsur-angsur turun. Seperti beras.

“Sekarang sudah mulai turun, beras sudah turun. Beras premium sudah di kisaran Rp 15.200 per kilogram, sudah mendekati HET (Harga Eceran Tertinggi). Kemudian beras medium juga sama, Rp 12 ribu per kilogram, sudah mendekati HET,” ujar Adhy.

Menurut Adhy, ada beberapa komoditas juga yang justru mendorong terjadinya deflasi, seperti cabai merah, telur ayam ras, dan daging ayam. “Intinya, di Jawa Timur, insyaallah, akan dijaga terus sampai menjelang Idul Fitri, kita siapkan semuanya,” kata dia.

Adhy mengatakan, dalam upaya pengendalian harga komoditas, Pemprov Jatim sejak Januari 2024 telah rutin menggelar pasar murah di berbagai daerah. Hingga kini, disebut sudah dilaksanakan 34 kali.

“Masih ada sampai Lebaran nanti mungkin sekitar empat hingga lima kali lagi. Itu belum pasar murah yang dilakukan oleh BUMD, Dharma Wanita, dan PKK,” kata Adhy.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement