Ahad 12 May 2024 09:47 WIB

Sepekan Gunung Merapi, Hampir Seribu Kali Gempa dan 176 Kali Guguran Lava

Status Gunung Merapi masih Siaga.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Irfan Fitrat
(ILUSTRASI) Gunung Merapi.
Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
(ILUSTRASI) Gunung Merapi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA — Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat hampir seribu kali aktivitas kegempaan Gunung Merapi selama periode 3-9 Mei 2024. Terdata juga lebih dari seratus guguran lava.

Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan, selama periode sepekan tersebut terdata 49 kali gempa vulkanik dangkal, 329 kali gempa fase banyak, satu kali gempa frekuensi rendah, 516 gempa guguran, dan 16 kali gempa tektonik. “Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih tinggi dibandingkan minggu lalu,” kata dia, Ahad (12/5/2024).

Baca Juga

Dalam periode yang sama, BPPTKG juga mencatat Gunung Merapi mengeluarkan guguran lava sebanyak 176 kali. Luncuran guguran lava tersebut dilaporkan mengarah ke barat daya atau hulu Kali Bebeng, sejauh maksimal 2.000 meter. “Suara guguran terdengar satu kali dari Pos Babadan dengan intensitas sedang,” ujar Agus.

BPPTKG menyimpulkan aktivitas Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif. Saat ini, status gunung tersebut masih Siaga, dengan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas guguran. Terutama di sektor selatan-barat daya dan sektor tenggara.

Di sektor selatan-barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer. Sedangkan potensi bahaya di sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol lima kilometer.

“Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak,” kata Agus.

Menurut Agus, data pemantauan juga menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Hal itu disebut dapat memicu terjadinya awan panas guguran di area daerah potensi bahaya. Karena itu, masyarakat diminta tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya. Masyarakat pun diminta tetap mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi. “Masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi,” kata Agus.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement