REPUBLIKA.CO.ID, Penetapan 1 Syawal 1446 Hijriyah kembali mengalami perbedaan tanggal di sejumlah negara. Sebagian besar negara di kawasan Jazirah Arab dan sekitarnya menetapkan 1 Syawal 1446 Hijriyah pada tanggal 30 Maret 2025, sementara negara-negara di kawasan Asia umumnya menetapkan 31 Maret 2025 sebagai 1 Syawal 1446 Hijriyah.
Di Indonesia, perbedaan ini tidak menjadi polemik besar. Hal ini mungkin disebabkan oleh kesamaan penetapan 1 Syawal 1446 Hijriyah oleh dua organisasi Islam terbesar, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, serta pemerintah, yang semuanya sepakat merayakan Idul Fitri 1446 Hijriyah pada hari yang sama. Muhammadiyah sendiri menyebutkan bahwa tahun ini merupakan tahun terakhir penggunaan hisab hakiki wujudul hilal. Mulai 1447 Hijriyah, Muhammadiyah akan mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Penggunaan KHGT merupakan upaya untuk menyatukan penentuan awal bulan Hijriyah secara global. Metode ini menganggap bumi sebagai satu kesatuan matlak (zona waktu rukyat), sehingga jika hilal terlihat di salah satu bagian bumi setelah matahari terbenam, maka seluruh dunia Islam dianggap memasuki bulan baru keesokan harinya.
Langkah Muhammadiyah ini dapat membuka kembali kemungkinan perbedaan penetapan awal bulan Hijriyah dengan NU maupun pemerintah. Hal ini wajar, mengingat metode penentuan awal bulan Hijriyah sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari pendekatan fikih, mazhab mayoritas, hingga perkembangan teknologi.
Perjalanan pengamatan hilal pun mengalami transformasi, mulai dari pengamatan mata telanjang, berkembang ke teleskop, kamera CCD (Charge-Coupled Device), hingga software astronomi dan satelit. Kini, memasuki era AI (Artificial Intelligence), yang juga mulai berdampak pada aspek-aspek keagamaan dan budaya umat Islam.
Pada Idul Fitri tahun ini, penggunaan teknologi AI menjadi fenomena tersendiri. Fitur generasi gambar berbasis AI yang diluncurkan melalui GPT-4o oleh OpenAI, mendorong masyarakat untuk membuat konten ucapan Idul Fitri dalam bentuk gambar dan video berkualitas tinggi hanya dengan menggunakan deskripsi teks. Ini memicu tren baru dalam penggunaan AI di Indonesia, terutama dalam ranah kreasi visual bertema Idul Fitri.
Namun, kemunculan tren ini juga mengundang pro dan kontra. Di satu sisi, AI memudahkan ekspresi kreatif tanpa memerlukan keahlian desain yang mendalam. Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang autentisitas, kejujuran ekspresi, dan nilai estetika yang manusiawi dalam karya-karya digital tersebut.
Tidak dimungkiri bahwa kemajuan teknologi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Berbagai inovasi selalu muncul seiring dengan temuan-temuan baru di bidang teknologi yang dapat memberikan pengaruh pada bidang-bidang lainnya, termasuk agama. Bagaimana menyikapi dan menggunakan kemajuan teknologi tersebut dapat menjadi pembeda antara satu individu dengan individu yang lainnya. Demikian pula bagaimana sikap dari suatu organisasi atau negara terhadap adanya kemajuan teknologi tersebut.
Pemanfaatan yang tepat dengan adanya kemajuan teknologi seperti AI dapat menjadi daya dorong pemicu munculnya inovasi baru. Namun demikian, dapat pula menjadi penghambat saat tidak cermat dalam penggunaannya.
Di bulan Syawal yang penuh berkah ini, saat yang tepat untuk menyelaraskan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai etika dan spiritualitas. Apakah teknologi menjadikan kita lebih manusiawi atau justru menjauhkan dari nilai-nilai kemanusiaan dan ketakwaan? Meski teknologi akan terus berkembang, fitrah manusia tetap tidak bisa tergantikan.
Maka, mari jadikan kemajuan teknologi ini sebagai pemicu munculnya kebaikan, bukan malah menjadikan sebagai penghambat. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Ar-Rahman ayat 33–34, “Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah). Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?”
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H, Taqabbalallahu minna wa minkum. Semoga teknologi mendekatkan kita kepada Allah SWT, mempererat persaudaraan, dan membentuk pribadi yang lebih bijak. Wallahu a’lam.