Jumat 04 Apr 2025 21:17 WIB

Daya Beli Masyarakat Turun, Banyak Orang Pulang Kampung tak Nginap di Hotel

Okupansi hotel di DIY pada libur Lebaran 2025 hanya 60 persen.

Rep: Wulan Intandari/ Red: Karta Raharja Ucu
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono
Foto: Wulan Intandari/ Republika
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Momen libur Lebaran yang biasanya menjadi panen bagi sektor perhotelan, tahun ini justru tak sesuai harapan. Pasalnya, okupansi hotel di berbagai kota besar termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami penurunan drastis, mencapai 20 persen.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan salah satu faktornya diduga karena lesunya daya beli masyarakat. Menurutnya, banyak orang yang pulang kampung memilih untuk tidak menginap di hotel atau memperpendek durasi liburan mereka untuk menghemat pengeluaran.

"Okupansi data kita tanggal 1 dan 2 April ini rata-rata 60% se-DIY khusus Kota Yogyakarta dan Sleman bisa 70%," kata Deddy, Kamis (3/4/2025).

Sementara reservasi pada 2--5 April 2025 baru mencapai angka 50 persen. Tingkat keterisian kamar hotel selama libur Lebaran 2025 ini, diakui Deddy, mengalami penurunan yang cukup signifikan apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni mencapai 20 persen.

Jika tahun 2024 okupansi hotel tinggi selama 5 hingga 6 hari, tahun ini hanya 4 hari saja. "Target 80 persen saja belum tercapai sampai dengan saat ini, semoga ada hari yang tercapai," ungkapnya.

"Tapi tren meningkat di tanggal 2 sampai dengan 4 April 2025 ini," ucap dia.

Selain penurunan tingkat okupasi, PHRI DIY juga mencatat adanya penurunan durasi menginap masyarakat di hotel. Hal ini terlihat dari kebiasaan reservasi yang tidak berlangsung hingga akhir libur Lebaran.

Penurunan ini tentu sangat disayangkan, mengingat musim libur Lebaran biasanya menjadi masa panen bagi para pelaku usaha hotel, restoran, hingga sektor ekonomi kreatif dan UMKM.

"(Tamu menginap) masih di dua hari rata-rata," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement