Rabu 28 Jan 2026 06:46 WIB
Lentera

Belajar Menata Ulang Langkah

Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukan semata proses transfer pengetahuan.

Prof Ema Utami dari Universitas Amikom Yogyakarta
Foto: amikom
Prof Ema Utami dari Universitas Amikom Yogyakarta

Oleh : Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, Proses pembelajaran di perguruan tinggi memiliki perbedaan yang cukup mendasar dibandingkan dengan pendidikan menengah. Mahasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai penerima pengetahuan, melainkan sebagai subjek aktif yang bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri. Tuntutan kemandirian menjadi keniscayaan, mahasiswa tidak bisa terus-menerus menunggu arahan dosen, tetapi dituntut mampu merencanakan, mengambil keputusan, serta berani menentukan langkah akademik maupun non akademik. Bersamaan dengan itu, mereka juga harus siap menanggung konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil sebagai bagian dari proses pendewasaan intelektual dan karakter.

Rangkaian tahapan pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya menuntut kecakapan akademik, tetapi juga ketangguhan mental dan kedewasaan sikap. Mahasiswa dihadapkan pada berbagai pilihan penting, mulai dari menentukan bidang minat, mengelola beban studi, hingga mengambil keputusan strategis terkait masa depan yang kerap harus dilakukan dalam situasi penuh ketidakpastian. Keberanian mengambil keputusan pada waktu yang tepat menjadi bagian penting dari proses tersebut. Melalui dinamika inilah mahasiswa ditempa untuk menjadi pembelajar yang tangguh, reflektif, dan bertanggung jawab, tidak hanya dalam ranah akademik, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan profesionalnya kelak.

Gambaran tersebut semakin nyata ketika kami mengikuti perjalanan akademik anak kedua kami, Najwa Rashika. Pada Senin, 26 Januari 2026, ia telah menyelesaikan salah satu tahapan penting dalam studinya pada Program Sarjana Aerospace Engineering Institut Teknologi Bandung, yakni sidang akhir skripsi. Tahapan ini merupakan proses akademik yang wajib dilalui mahasiswa program sarjana sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah atas karya tugas akhir yang telah disusun melalui proses panjang pembelajaran, penelitian, dan pendewasaan intelektual.

Keputusan Najwa untuk menyelesaikan tugas akhir pada semester tujuh tidak terlepas dari adanya penyesuaian terhadap rencana studi yang sebelumnya telah disusun. Pada semester tersebut, ia semula merencanakan untuk mengikuti program pertukaran semester internasional ke Jepang sebagai bagian dari pengayaan akademik dan pengalaman global. Namun, karena berbagai pertimbangan dan kondisi yang tidak memungkinkan, rencana tersebut tidak dapat direalisasikan. Situasi ini menuntut adanya pengambilan keputusan baru yang tidak mudah, sekaligus menjadi ujian awal bagi kemampuan mahasiswa dalam beradaptasi dan menentukan langkah strategis di tengah perubahan.

Perubahan kondisi tersebut menuntut penyesuaian yang cepat sekaligus keberanian untuk menentukan langkah baru agar penyelesaian studi tetap berada dalam koridor waktu yang direncanakan. Menyelesaikan seluruh kewajiban mata kuliah bersamaan dengan pelaksanaan sidang akhir skripsi pada semester tujuh jelas bukan pilihan yang mudah. Diperlukan kedisiplinan tinggi, pengelolaan waktu yang cermat, serta komitmen yang kuat untuk menuntaskan setiap tanggung jawab akademik yang telah dimulai. Keputusan ini diambil agar pada semester delapan Najwa tetap memiliki kesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa internasional ke Belanda tanpa harus menambah masa studi.

Tahapan berikutnya pun harus segera diikuti. Pada Selasa, 27 Januari 2026, Najwa berangkat menuju Groningen melalui Bandara Soekarno-Hatta dan dijadwalkan tiba di Bandara Schiphol, Amsterdam, pada Rabu, 28 Januari 2026. Dari Amsterdam, perjalanan dilanjutkan dengan kereta api menuju kota tujuan. Rangkaian perjalanan ini menjadi pengingat bahwa menjadi pembelajar yang tangguh tidak selalu berarti berjalan lurus sesuai rencana awal, melainkan memiliki kemampuan untuk bangkit, menyesuaikan diri, dan menata ulang langkah ketika rencana harus berubah. Tanggung jawab atas pilihan yang diambil, kesungguhan dalam menjalani proses, serta keikhlasan menerima dinamika kehidupan akademik menjadi bekal berharga yang nilainya melampaui sekadar capaian akademik itu sendiri.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukan semata proses transfer pengetahuan, melainkan ruang pembentukan karakter, penempaan mental, serta latihan mengambil keputusan dalam kehidupan nyata. Nilai-nilai inilah yang diharapkan senantiasa menyertai langkah para mahasiswa, di mana pun mereka berada dan ke mana pun perjalanan hidup membawanya. Sebagai pengingat akan makna ikhtiar dan tanggung jawab personal dalam setiap pilihan, firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah An-Najm ayat 39 layak dijadikan pegangan: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” Wallāhu a‘lam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement