
Oleh : Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)
REPUBLIKA.CO.ID, Dalam tradisi Islam, bulan Syaban memiliki kedudukan tersendiri sebagai bulan yang mengantar kita menuju Ramadhan, bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembaharuan spiritual. Salah satu peristiwa yang sering menjadi perhatian sebagian umat Islam adalah peringatan pertengahan bulan Syaban atau sering dikenal dengan malam Nisfu Syaban. Peringatan yang jatuh pada 15 Syaban dalam penanggalan Hijriah ini di sebagian tempat dilakukan doa bersama dan menjadi refleksi terhadap kehidupan spiritual, sekaligus sebagai persiapan menyambut bulan ramadan yang tak lama lagi akan tiba.
Pada tahun 2026 ini, penetapan awal bulan Ramadhan direncanakan oleh pemerintah pada tanggal 17 Februari 2026 yang akan mempertimbangkan laporan hilal dari berbagai wilayah dan data astronomis. Berbeda dengan kalender syamsiah atau masehi yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari, kalender Hijriyah bergeser sekitar 10–11 hari setiap tahunnya karena perbedaan dasar perhitungannya. Pergeseran inilah yang membuat awal Ramadhan serta bulan-bulan lain dalam Islam tidak selalu jatuh pada periode yang sama bila dibandingkan tahun ke tahun menurut kalender Masehi.
Seiring dengan pergeseran waktu bulan-bulan Hijriyah, dampaknya juga terasa pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kalender akademik Perguruan Tinggi. Di Universitas Amikom Yogyakarta, misalnya, perkuliahan saat ini berada pada masa libur akademik setelah berakhirnya ujian akhir semester Ganjil tahun akademik 2025/2026. Menariknya, pada tahun akademik ini sejumlah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) memulai perkuliahan semester Genap sedikit lebih lambat dibandingkan Perguruan Tinggi Negeri yang umumnya sudah aktif kembali pada Februari 2026. Kondisi tersebut membuat mahasiswa PTS berada pada fase libur UAS yang disusul dengan pengisian KRS, sebelum kemudian kembali dihadapkan pada libur Lebaran 1447 Hijriyah yang berdekatan dengan awal Ramadhan.
Ketika bulan Ramadhan bersinggungan dengan agenda akademik, Perguruan Tinggi dan institusi pendidikan di Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk merancang kalender akademik yang adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa, dosen, serta masyarakat luas yang menjalankan ibadah puasa. Penyesuaian ini bisa dilihat sebagai upaya perencanaan yang matang dan sensitif terhadap berbagai dimensi kehidupan. Aspek ritual keagamaan, dinamika sosial, pertimbangan ekonomi, hingga kebutuhan praktis dalam proses pembelajaran menjadi faktor penting yang perlu dipertimbangkan agar aktivitas akademik tetap berjalan seimbang.
Dalam konteks yang berbeda namun tetap relevan, dinamika penyesuaian ini juga tercermin dalam perjalanan anak kedua kami, Najwa Rashika, yang hari ini genap satu pekan berada di Belanda untuk mengikuti program pertukaran semester internasional di University of Groningen. Setibanya di Groningen, ia langsung memasuki jadwal perkuliahan yang padat, mulai beradaptasi dengan ritme akademik dan budaya belajar di lingkungan internasional, serta membangun relasi dengan teman-teman barunya di kampus. Di tengah kesibukan tersebut, Najwa juga dituntut untuk mengatur waktu secara cermat antara kewajiban akademik, proses revisi skripsi, dan langkah mencari peluang beasiswa studi lanjut jenjang S2.
Seluruh rangkaian kegiatan di atas, mulai dari hadirnya bulan Syaban, persiapan menyambut Ramadhan, penyesuaian kalender akademik, hingga dinamika studi di dalam dan luar negeri, memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapan diri dalam menghadapi perubahan waktu dan peran kehidupan. Setiap fase menuntut kemampuan untuk menata niat, mengelola waktu, serta menjaga keseimbangan antara tuntutan spiritual, akademik, dan perencanaan masa depan. Dalam konteks inilah Alquran mengingatkan bahwa pergantian waktu merupakan ruang pembelajaran dan refleksi bagi manusia, sebagaimana firman Allah SWT, “Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur” (QS Al-Furqan [25]: 62). Wallāhu a‘lam.