Rabu 11 Feb 2026 16:21 WIB

Tanah Bergerak di Jangli Semarang Ancam Keselamatan Warga

Jalan yang melintasi Kampung Sekip memang sudah dipenuhi retakan dan bergelombang.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Karta Raharja Ucu
Suasana Kampung Sekip di Kelurahan Jangli, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, yang terdampak tanah bergerak, Rabu (11/2/2026).
Foto: Kamran Dikarma/Republika
Suasana Kampung Sekip di Kelurahan Jangli, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, yang terdampak tanah bergerak, Rabu (11/2/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Rumah Slamet Riyadi (46 tahun), warga Kampung Sekip RT07/01, Kelurahan Jangli, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), tampak masih berdiri. Namun rumah berdinding papan kayu dan beratap seng itu akan dibongkar karena sudah tak aman ditinggali. Slamet adalah salah satu warga yang kediamannya terdampak tanah bergerak. 

Slamet mengungkapkan, retakan pada lantai rumahnya mulai muncul pada Ahad (8/2/2026) dini hari. Hujan lebat telah mengguyur daerah tersebut sejak Sabtu (7/2/2026) sore dan terus berlangsung hingga Ahad pagi. Slamet akhirnya memutuskan mengevakuasi istri dan dua anaknya dari rumah.

Baca Juga

"Saya keluar Minggu pagi. Jadi rumah itu kondisinya sudah tidak karuan. Memang pergerakan tanahnya luar biasa," kata Slamet saat ditemui Republika, Rabu (11/2/2026).

Saat ini Slamet dan keluarganya untuk sementara mengungsi di Musala Al Amin yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya. Namun Slamet menyebut, ada pula warga terdampak yang memutuskan untuk tinggal sementara di rumah kerabat mereka. 

Berdasarkan pantauan Republika, jalan yang melintasi Kampung Sekip memang sudah dipenuhi retakan dan bergelombang. Bahkan jalan menurun menuju kampung tersebut telah terputus atau terbelah. Tak jauh dari titik tersebut, tampak terdapat rumah yang ambruk. 

"Kemarin aliran listrik dan air sempat terputus semua. Tapi sekarang ini sudah diperbaiki," kata Slamet. 

Slamet mengaku sudah tinggal di Kampung Sekip sejak lahir. Menurut dia, fenomena pergerakan tanah sudah teramati setidaknya sejak dua bulan lalu. Hal itu tampak ketika retakan-retakan mulai muncul di jalanan kampung. "Ini terus berkembang, apalagi ketika ada hujan deras. Retakannya makin lebar dan merembet," ucapnya.

Menurut Slamet, sebelum dampak tanah bergerak separah saat ini, Ketua RT07/01 sudah sempat melaporkan fenomena tersebut ke ketua RW. Ketua RW 01 pun telah meninjau kondisi Kampung Sekip. Namun Slamet mengaku kurang mengetahui apakah laporan mengenai pergerakan tanah itu diteruskan ke dinas atau instansi berwenang. 

Ketika ditemui Republika, Slamet, dibantu warga lainnya secara swadaya, membongkar rumahnya. "Itu sudah tidak layak ditinggali," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement