
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pekan ini, 19-21 Mei 2026, Universitas Amikom Yogyakarta menjalani momen penting, yakni asesmen lapangan akreditasi Program Studi S1 Hubungan Internasional. Selama tiga hari, tim asesor hadir langsung untuk mengevaluasi sejauh mana prodi ini telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan.
Akreditasi merupakan proses yang menuntut persiapan panjang dan serius. Mulai dari penyusunan dokumen, kelengkapan data, bukti kegiatan, hingga kesiapan seluruh civitas akademika yang terlibat.
Namun siapa pun yang pernah menjalani asesmen lapangan memahami, tidak ada persiapan yang bisa mengantisipasi segalanya. Selalu ada kejadian yang tak terduga bisa muncul justru di momen paling krusial.
Kejadian tak terduga bisa datang dari pertanyaan asesor yang melampaui dokumen yang telah disiapkan, sistem informasi yang tiba-tiba bermasalah, narasumber yang memberikan jawaban tidak sesuai konteks, atau situasi teknis yang tidak berjalan sebagaimana direncanakan.
Cara sebuah institusi merespons kejadian tak terduga sering kali justru menunjukkan tingkat kematangannya. Respons yang tenang, cepat, dan tepat sesungguhnya mencerminkan kapasitas institusi yang nilainya jauh melampaui sekadar kelengkapan dokumen.
Akreditasi, selain merupakan proses verifikasi tentang apa yang telah disiapkan, juga menjadi ujian tentang bagaimana kita bersikap ketika yang tidak disiapkan justru terjadi.
Refleksi tentang kejadian tak terduga ini mengingatkan saya pada perjalanan Najwa, putri sulung kami, yang beberapa pekan lalu menghadiri konferensi internasional pertamanya secara luring di Turki, 13-15 Mei 2026.
Setelah artikelnya dinyatakan lolos untuk dipresentasikan, Najwa mulai merencanakan perjalanan dari Groningen, Belanda, tempat ia sedang menjalani study exchange program. Perjalanan dimulai dini hari dari Groningen.
Najwa terlebih dahulu menaiki FlixBus menuju Bremen, Jerman, sebelum melanjutkan penerbangan menuju Istanbul, Turki. Dalam dinginnya udara pagi Groningen yang masih disertai gerimis, ia mengayuh sepeda dari tempat tinggalnya menuju area stasiun dan terminal bus untuk memulai perjalanan panjang tersebut.
Di tengah perjalanan menuju halte bus itulah sebuah kejadian pertama yang tak terduga muncul, Najwa menyadari salah satu tasnya tertinggal. Beruntung ada seseorang yang bersedia membantu mengantarkan tas tersebut tepat waktu.
Sebuah kejadian kecil yang bisa saja menggagalkan seluruh perjalanan, tetapi justru terselesaikan dengan ketenangan dan pertolongan yang datang pada saat yang tepat.
Sekembalinya dari Turki, Najwa menempuh perjalanan pulang melalui penerbangan Istanbul menuju Amsterdam, lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju Groningen.
Setelah perjalanan panjang lintas negara itu, Najwa tiba kembali di area stasiun Groningen tempat sepeda yang digunakannya berangkat dititipkan beberapa hari sebelumnya. Namun setelah sekian lama mencari, sepedanya ternyata raib.
Kehilangan sepeda di Belanda merupakan masalah paling umum dihadapi warganya setiap hari, terutama di kota mahasiswa seperti Groningen yang dikenal sebagai salah satu hotspot pencurian sepeda. Najwa tentu bukan korban pertama, dan dipastikan bukan yang terakhir.
Tanpa sepeda, dengan ransel di punggung, tas di tangan, serta udara dingin Groningen dini hari yang menusuk, tidak ada pilihan lain selain berjalan kaki ke tempat tinggal. Sekitar empat puluh menit perjalanan menuju tempat tinggalnya harus ditempuh dengan langkah kaki yang lelah setelah berkegiatan di Turki.
Pukul tiga dini hari waktu Groningen atau sekitar pukul delapan pagi WIB, ia sudah memiliki janji pertemuan daring dengan rekan-rekan peneliti di Indonesia.
Dengan demikian tidak ada ruang untuk panik, tidak ada waktu untuk larut dalam kekesalan atas sepeda yang hilang. Yang ada hanyalah langkah demi langkah di jalanan Groningen yang sunyi, menuju meja dan layar yang harus menyala tepat waktu.
Baik dalam asesmen lapangan akreditasi maupun dalam perjalanan seorang mahasiswi menuju konferensi internasional luring pertamanya, terdapat benang merah yang sama, yakni kejadian tak terduga adalah bagian dari perjalanan, bukan pengecualiannya.
Ujiannya bukan apakah kita bisa menghindarinya, melainkan apakah kita cukup tangguh untuk menghadapinya dengan kepala tegak. Najwa tiba di rumah, menyalakan laptopnya, dan rapat daring pun berjalan tepat waktu.
Sepeda boleh hilang, tetapi komitmen tidak. Akreditasi boleh menghadirkan kejutan, tetapi respons yang tenang dan terukur akan selalu mencerminkan kualitas yang sesungguhnya.
Allah SWT berfirman: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun." (QS. Al-Baqarah: 155-156).
Kesabaran tak berarti diam dan menyerah, melainkan tetap melangkah, tetap berkomitmen, dan tetap memberi yang terbaik, bahkan ketika kejadian tak terduga datang menghadang. Wallāhu a'lam.