Selasa 28 Feb 2023 07:05 WIB

Inovasi Tiga Peneliti UGM Raih Penghargaan Tingkat Asia

Sistem peringatan dini di Indonesia masih membutuhkan peningkatan.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Yusuf Assidiq
Kampus UGM Yogyakarta.
Foto: Yusuf Assidiq
Kampus UGM Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Tiga peneliti Universitas Gadjah Mada berhasil meraih Hitachi Global Foundation Asia Innovation Award 2022. Ketiga peneliti tersebut yaitu Sri Juari Santosa dari Fakultas MIPA,  Faisal Fathani dari Fakultas Teknik, dan Rimawan Pradiptyo dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Rimawan berhasil memperoleh penghargaan berkat inovasinya berjudul SONJO: Online-Based Social Capital That Aims to Minimize the Adverse Impact of Covid-19 in Yogyakarta. Berdirinya organisasi Sambatan Jogja atau SONJO dilatarbelakangi dampak pandemi Covid-19 di masyarakat.  

Menurutnya organisasi tersebut bertujuan untuk meminimalisir dampak pandemi di masyarakat, khususnya di bidang ekonomi dan kesehatan. Organisasi non-profit ini telah memberikan banyak kontribusi, seperti pengembangan tempat isolasi, vaksin massal, dan pengembangan UKM.

“SONJO memang terbatas di Yogya awalnya meski kemudian berkembang dan kami bersinergi dengan enam perusahaan/komunitas/ masyarakat di daerah lain di Indonesia. Terlepas dari kontribusi kami yang terbatas itu, kami ingin menunjukkan praktik baik yg berhasil kita lakukan bersama selama pandemi ini,” kata Rimawan.

Kemudian Juari Santosa berhasil mendapatkan penganugerahan atas inovasinya berjudul Providing Safe Water Sources for Drinking and Domestic Uses through the Development and Implementation of an Adaptable and Reusable Hybrid Material-Based Removal Method. Penelitian ini mengangkat isu kebutuhan air bersih di Indonesia, khususnya di daerah Kalimantan Barat.

Juari berhasil mengembangkan bahan hibrida magnetit dan hidrotalsit (Mag-HT) sebagai adsorben untuk penghilangan DOCs (Dissolve Organic Coumpounds) yang efektif dalam air baku pengolahan air minum. Senyawa ini dikatakan lebih efektif menjernihkan air dibanding tawas yang selama ini digunakan untuk menjernihkan air melalui pengendapan.

Inovasi Juari tersebut berhasil meraih gelar Best Innovation Award bersama Phung Thi Kim Le asal Vietnam dan diberikan pada Award Ceremony tanggal 10 Januari 2023 lalu di Tokyo.

Sedangkan Faisal melalui inovasinya berjudul Development of a community based low cost and most adaptive multi hazard early warning system memperoleh penghargaan Outstanding Innovation Award. Menurutnya sistem peringatan dini (Early Warning System) di Indonesia masih membutuhkan peningkatan.

Padahal, Indonesia termasuk negara yang rawan akan bencana seperti tsunami, banjir, tanah longsor, dan lain-lain. Dalam risetnya, Faisal mengembangkan sistem EWS berbasis masyarakat yang menggabungkan antara dua hal, yaitu teknis dan sosial.

Sistem ini dibuat sesederhana mungkin agar dapat bekerja efektif dan cepat melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Inovasi Faisal tersebut juga telah diterapkan dalam riset GAMA-InaTEK yang fokus pada isu penanggulangan bencana.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement