Ahad 14 May 2023 17:07 WIB

Gunung Merapi Keluarkan Guguran Lava 106 Kali

BPPTKG menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik masih cukup tinggi.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi
Luncuran awan panas guguran (APG) Gunung Merapi terlihat dari Tunggularum, Sleman, Yogyakarta.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Luncuran awan panas guguran (APG) Gunung Merapi terlihat dari Tunggularum, Sleman, Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Perkembangan aktivitas Gunung Merapi terus dipantau Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Hingga saat ini, aktivitas Merapi masih cukup tinggi.

Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso mengatakan, berdasarkan pengamatan pada 5-11 Mei 2023, Merapi masih terus mengeluarkan guguran lava, yakni sebanyak 106 kali. Guguran lava ini mengarah ke arah barat daya, yakni hulu Kali Bebeng, dengan jarak luncur maksimal 1.800 meter.

Baca Juga

"Suara guguran terdengar 12 kali dari Pos Pengamatan Merapi Babadan dengan intensitas kecil hingga sedang," kata Agus, Sabtu (13/5/2023).

Agus menuturkan bahwa pada kubah lava barat daya teramati adanya perubahan morfologi akibat adanya guguran lava. Sedangkan, untuk kubah tengah tidak ada perubahan yang signifikan.

 

"Berdasarkan foto udara pada 13 Maret 2023, volume kubah barat daya terukur sebesar 1.686.200 meter kubik dan kubah tengah sebesar 2.312.100 meter kubik," ujar Agus.

Terkait kegempaan, BPPTKG juga melaporkan masih cukup tinggi. Sejak 5-11 Mei kemarin, kata Agus, tercatat empat kali gempa vulkanik dangkal (VTB). Selain itu, pihaknya juga mencatat 16 kali gempa fase banyak (MP), 711 kali gempa guguran (RF) dan 12 kali gempa tektonik (TT).

"Intensitas kegempaan pada minggu ini lebih rendah dibandingkan minggu lalu, tapi jumlah gempa RF masih cukup tinggi," katanya.

Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, BPPTKG menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik masih cukup tinggi, yakni berupa erupsi efusif. Hingga saat ini, status aktivitas ditetapkan masih dalam tingkat siaga atau level 3.

Dengan demikian, potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya. Yakni meliputi Kali Boyong sejauh maksimal lima kilometer, Kali Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer.

Selain itu, potensi bahaya guguran lava dan awan panas ini juga dapat terjadi pada sektor tenggara, yakni meliputi Kali Woro sejauh maksimal tiga kilometer, dan Kali Gendol lima kilometer.

"Sedangkan, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak," kata Agus.

Untuk itu, masyarakat diminta untuk tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya tersebut. BPPTKG juga meminta masyarakat agar mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Merapi serta mewaspadai bahaya lahar, terutama saat terjadi hujan di seputar Merapi.

"Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan, status aktivitas Merapi akan segera ditinjau kembali," ujarnya.

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement