Sabtu 10 Jun 2023 16:27 WIB

PP Muhammadiyah dan Waligereja Indonesia Sepakat Jadikan Agama Sebagai Kanopi Suci

Persaudaraan umat Islam dan Katolik tercermin dalam menghendaki kemajuan bangsa.

PP Muhammadiyah  dalam agenda kunjungan merajut silaturahmi komponen bangsa ke Wisma Keuskupan Agung Jakarta Jl. Katedral No. 7, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2023).
Foto: PP Muhammadiyah
PP Muhammadiyah dalam agenda kunjungan merajut silaturahmi komponen bangsa ke Wisma Keuskupan Agung Jakarta Jl. Katedral No. 7, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Waligereja Indonesia sepakat menjadikan agama sebagai kanopi suci untuk memandu umat beragama dan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan persaudaraan antara umat Islam dengan Katolik bukan hanya dicerminkan dari Gereja Katedral Jakarta yang berdampingan dengan Masjid Istiqlal, tetapi juga dalam praktek alam pikiran yang menghendaki kemajuan umat dan bangsa Indonesia.

"Muhammadiyah dan yang lainnya, tentu spirit, jiwa dan alam pikirannya sama yakni menghadirkan agama sebagai kanopi suci untuk memandu umat beragama dan publik luas, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” kata Haedar dalam agenda kunjungan merajut silaturahmi komponen bangsa ke Wisma Keuskupan Agung Jakarta Jl. Katedral No. 7, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2023).

Ketua Kantor Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin mengakui gagasan dan pemikiran tokoh maupun Muhammadiyah secara organisatoris yang dilempar ke publik memberikan kesejukan dan pencerahan bukan hanya bagi internal Muhammadiyah maupun Islam. "Tetapi juga bagi umat secara luas," kata Mgr Antonius.

Dalam pertemuan tersebut, Haedar menyebut agama hadir sebagai energi rohani untuk menguatkan jiwa-jiwa bangsa. Sekaligus juga menyatukan diri dalam perbedaan, dan terus terhubung dalam membawa nilai-nilai perdamaian di tengah kondisi berbangsa dan bernegara yang majemuk.

 

"Dalam konteks Ke Indonesia, kita tidak punya sejarah negara ini pisah dengan agama. Semua bersatu untuk berjuang menuju kemerdekaan dan memajukan. Lalu tidak kemudian, karena salah satu tindakan umat beragam dijadikan alasan untuk menilai agama sebagai sumber masalah dan radikalisme,” ungkap Guru Besar Sosiologi ini.

Mgr. Antonius Subianto juga mengapresiasi derap pendidikan Muhammadiyah yang menurutnya kian melejit. Pihaknya optimistis bahwa melalui peran-peran strategis yang dilakukan Muhammadiyah menjadikan marwah agama terjaga, serta kepercayaan umat terhadap agama tidak luntur.

Lebih-lebih menjelang Pemilu 2024, gagasan dan pemikiran segar dari Muhammadiyah dapat menetralisir sekaligus menyejukkan hajatan lima tahunan yang kerap memanas itu. Kepada jemaat dan bangsa Indonesia secara luas, Mgr. Antonius Subianto berpesan supaya dalam menjalani Pemilu gembira, pahami itu hanya pesta lima tahunan yang menggembirakan.

Kunjungan ini juga disambut hangat oleh Mgr. Ignasius Kardinal Suharyo bahkan dia menyebut kunjungan yang dilakukan oleh PP Muhammadiyah periode 2022-2027 ini sebagai sejarah yang menggembirakan. Selain praktek inklusi yang diterapkan di berbagai institusi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), juga pemikiran tokoh dan organisasi yang mencerahkan.

"Kami sangat menghargai pemikiran dan gagasan dilempar ke publik, ini suatu pencerahan yng luar biasa bagi semua, tutupnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement