Kamis 20 Jul 2023 12:56 WIB

Kasus Bergejala Antraks Kembali Ditemukan di Semanu: Warga Sembelih Kambing Sakit

Terdapat 22 orang yang diambil sampel darahnya.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Yusuf Assidiq
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Gunungkidul melakukan penyemprotan dekontaminasi bakteri aktraks di Dusun Jati, Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta, Jumat (7/7/2023). Penyemprotan ini dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit antraks. Menurut Kemenkes, kasus antraks di Dusun Jati sudah bisa masuk kategori kejadian luar biasa (KLB). Karena sudah ada satu kematian suspek antraks, tetapi kewenangan KLB ada di Pemkab Gunungkidul.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Gunungkidul melakukan penyemprotan dekontaminasi bakteri aktraks di Dusun Jati, Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta, Jumat (7/7/2023). Penyemprotan ini dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit antraks. Menurut Kemenkes, kasus antraks di Dusun Jati sudah bisa masuk kategori kejadian luar biasa (KLB). Karena sudah ada satu kematian suspek antraks, tetapi kewenangan KLB ada di Pemkab Gunungkidul.

REPUBLIKA.CO.ID, WONOSARI -- Pemkab Gunungkidul kembali menemukan penyakit dengan gejala antraks pada dua orang warga Padukuhan Semuluh Lor, Kalurahan Ngeposari, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, DIY, setelah mereka menyembelih kambing sakit.

Menurut Kepala Bidang Kesehatan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul Retno Widyastuti, ada warga yang bergejala antraks seusai menyembelih kambing sakit. "Kami diberi tahu ada suspek antraks, harus ada uji lab untuk peneguhan," ujar Retno kepada Republika.co.id, Kamis (20/7/2023).

Selanjutnya, pada Jumat (14/7/23) lalu pihaknya mengambil sampel tanah yang terkontaminasi darah sembelih untuk kemudian dites laboratorium oleh Balai Besar Veteriner (BBVet). Sampel yang akan diuji lab tersebut baru disampaikan ke BBVet pada Senin (17/7/23), dan hasilnya belum keluar sampai sekarang.

"Jadi, belum ada kepastian ternaknya antraks atau tidak dari hewan dan lingkungan. Untuk warga yang sakit, itu ranah Dinkes yang memeriksa," kata Retno.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Gunungkidul Sidig Hery Sukoco mengatakan terdapat 22 orang yang diambil sampel darahnya usai kontak dengan kambing yang sakit tersebut.

"Ada dua bergejala, dan yang dua puluh lainnya tidak bergejala, tapi kontak. Jadi, kami ambil sampel 22 orang," ujarnya.

Menurut Hery, sebanyak 22 orang tersebut melakukan kontak mulai dari menyembelih kambing sakit, mengolah daging hingga makan daging tersebut.

Untuk menentukan apakah penyakit yang diderita oleh dua orang warga di sana benar antraks atau tidak, pihaknya masih menunggu hasil lab Balai Besar Veteriner di Bogor. "Hasilnya juga belum bisa dipastikan kapan, jadi saat ini masih belum tahu antraks atau tidak," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement