Jumat 21 Jul 2023 05:17 WIB

Dinkes Gunungkidul Periksa Dugaan Penularan Antraks di Semuluh Lor

Petugas memeriksa sampel tanah di sekitar tempat tinggal warga.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Gunungkidul melakukan penyemprotan dekontaminasi bakteri aktraks di Dusun Jati, Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta, Jumat (7/7/2023). Penyemprotan ini dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit antraks. Menurut Kemenkes, kasus antraks di Dusun Jati sudah bisa masuk kategori kejadian luar biasa (KLB). Karena sudah ada satu kematian suspek antraks, tetapi kewenangan KLB ada di Pemkab Gunungkidul.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Gunungkidul melakukan penyemprotan dekontaminasi bakteri aktraks di Dusun Jati, Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta, Jumat (7/7/2023). Penyemprotan ini dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit antraks. Menurut Kemenkes, kasus antraks di Dusun Jati sudah bisa masuk kategori kejadian luar biasa (KLB). Karena sudah ada satu kematian suspek antraks, tetapi kewenangan KLB ada di Pemkab Gunungkidul.

REPUBLIKA.CO.ID, WONOSARI -- Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, mengambil sampel darah 22 warga di Padukuhan Semuluh Lor, Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, untuk memeriksa kemungkinan terjadi penularan antraks pada warga di daerah tersebut.

"Pengambilan sampel darah ini untuk mengetahui apakah ada masyarakat yang terkena antraks," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul Sidig Hery Sukoco di Gunungkidul.

Ia menyampaikan bahwa pemeriksaan sampel darah dilakukan setelah dua warga dilaporkan mengalami luka kulit serupa gejala antraks. Temuan kasus itu diduga berkaitan dengan mbrandu yang dilakukan oleh warga Padukuhan Semuluh Lor pada satu kambing milik warga.

Mbrandu yakni tradisi warga untuk membeli hewan ternak yang sakit dengan iuran bersama kemudian menyembelihnya dan membagi-bagi dagingnya untuk dikonsumsi.

 

Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul memeriksa sampel darah warga yang mengalami luka serupa gejala antraks serta 20 orang lain yang ikut mengonsumsi daging kambing yang di-brandu.

"Sampai saat ini kami masih menunggu hasil uji laboratorium dari sampel darah. Semoga hasilnya negatif semua," kata Sidiq.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan dua orang yang diduga terserang antraks lukanya berangsur-angsur sembuh.

Dewi mengimbau warga menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta memastikan makanan yang dikonsumsi aman dan sehat agar terhindar dari penularan penyakit. "Pastikan makanan yang dikonsumsi benar-benar sehat dan tidak terkontaminasi penyakit," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Retno Widiastuti mengatakan, dinas sudah menurunkan petugas untuk menelusuri penularan antraks di Semuluh Lor, termasuk memeriksa sampel tanah di sekitar tempat tinggal warga yang diduga terserang antraks.

Berdasarkan penelusuran petugas, menurut dia, dua warga yang diduga terserang antraks sebelumnya menyembelih kambing dan mengonsumsi dagingnya.

"Untuk kasus di Semuluh Lor belum ada dan sekarang baru dugaan. Untuk kepastian masih menunggu hasil tes. Hingga sekarang juga belum ada laporan ternak mati," kata dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement