Sabtu 09 Dec 2023 21:18 WIB

Dispar Bantul Imbau Pengelola Wisata untuk Mitigasi Bencana Banjir dan Longsor

Para pengelola tempat wisata di Kabupaten Bantul telah memberikan respons yang baik.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Fernan Rahadi
Suasana aktivitas wisata air di Desa Wisata Banjoe Adji, Bantul, DIY.
Foto: Idealisa Masyrafina
Suasana aktivitas wisata air di Desa Wisata Banjoe Adji, Bantul, DIY.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Memasuki musim penghujan, Pemkab Bantul menghimbau para pengelola destinasi wisata di tempat- tempat berpotensi bencana hidrometeorologi untuk melakukan serangkaian antisipasi bencana, seperti banjir dan tanah longsor.

Imbauan itu dilakukan melalui surat edaran terkait upaya antisipasi terjadinya bencana hidrometeorologi kepada seluruh destinasi wisata.

Kepala Dinas Pariwasata (Dinpar) Kabupaten Bantul Kwintarto Heru Prabowo menjelaskan  bahwa terdapat sekitar 180 wisata alam terbuka di Kabupaten Bantul. Di antara jumlah tersebut, terdapat 20 wisata air yang berpotensi bencana banjir dan lebih dari 15 wisata tebing yang memiliki potensi bencana tanah longsor.

"Kami sudah melakukan himbauan kewaspadaan akan potensi bencana hidrometeorologi kepada pengelola tempat-tempat wisata tersebut," ujar Kwintarto pada Jumat (8/12/2023).

 

Dalam imbauan tersebut, Dinpar Bantul juga telah memberikan arahan kepada pelaku wisata untuk melakukan pengecekan kondisi tempat wisata, serta antisipasi apabila terjadi bencana hidrometeorologi.

Terutama wisata air seperti di sungai-sungai, pengelola destinasi wisata dihimbau untuk mewaspadai terjadinya banjir atau arus air yang sangat deras.

Bencana banjir di sejumlah wisata air dapat berpotensi terjadi ketika hujan datang tanpa waktu jeda dengan intensitas curah yang tinggi. Apalagi wilayah Bantul memiliki dataran yang lebih rendah dibanding kabupaten/kota lain, sehingga hujan dari kota/kabupaten lain bisa menimbulkan banjir.

"Karena seringnya air yang mengalir di sungai datang dari arah yang datarannya lebih tinggi dari Kabupaten Bantul," ujarnya.

Menurut Kwintarto, para pengelola tempat wisata di Kabupaten Bantul telah memberikan respons yang baik terhadap imbauan tersebut. Mereka juga telah melaksanakan arahan dari Dinpar Bantul.

Ia pun meminta para pengelola destinasi wisata untuk bijaksana, dan tidak memaksakan melakukan aktivitas pariwisata yang membahayakan wisatawannya sendiri. Pengelola diminta untuk bisa mengomunikasikannya dengan wisatawan dengan memberikan edukasi yang tepat.

“Misalnya di utara ada hujan, tapi ada booking wisatawan, lebih baik di-cancel kalau ada indikasi arus berisiko,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol menyebutkan bahwa pihaknya secara umum telah melakukan sosialisasi kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir dan tanah longsor pada Rabu (6/12/2023) lalu kepada seluruh OPD, kapanewon dan 36 pos bansor, sebelum SK Siaga Bencana Hidrometeorologi dirilis.

"Harapannya dengan sosialisasi maupun SK siaga, OPD seperti Dinas Pariwisata bisa meneruskan ke pengelola desa wisata maupun Pokdarwis," ujar Antoni saat dihubungi terpisah.

Antoni mengungkapkan, pihaknya juga akan ikut melakukan sosialisasi kepada pelaku wisata saat persiapan musim liburan Nataru. Ia berharap dengan sosialisasi tersebut para pengelola destinasi wisata akan lebih siap untuk melakukan antisipasi bencana banjir maupun tanah longsor.

"Harapannya di lokasi-lokasi wisata yang rawan bencana Bansor untuk waspada dan persiapan mitigasi terutama daerah-daerah yang rawan longsor. Pohon-pohon yang tua atau akar yang rapuh perlu dimitigasi, demikian juga baliho-baliho," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement