REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Sejumlah lembaga amil zakat berbasis organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi membentuk Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (Poroz) DIY. Pengurus Poroz dilantik pada Sabtu (29/11/2025) di Aula Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, ditandai dengan pembaiatan oleh Pengurus Nasional Poroz.
Dalam sambutannya, Ketua Poroz DIY, Edo Sagara Gustanto menyampaikan kehadiran organisasi ini sebagai wadah sinergi berbagai lembaga amil zakat (LAZ) ormas, di antaranya Lazismu (Muhammadiyah), NU Care–Lazisnu (NU), Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Laznas Dewan Dakwah, serta Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ).
"Poroz DIY terbentuk melalui proses yang cukup panjang. Kami sangat bersyukur teman-teman dari Lazisnu, kemudian BMH, WIZ dan Laznas Dewan Dakwah bisa bergabung," katanya, Sabtu (29/11/2025).
"Kami Poroz ini berbasis ormas, tujuannya semata-mata tidak lain hanyalah untuk melayani umat, masyarakat yang membutuhkan," ujarnya.
Edo juga menyampaikan bahwa Poroz DIY memiliki karakter berbeda dibanding wadah kolaborasi zakat yang pernah ada sebelumnya, karena secara resmi berbasis organisasi atau kelembagaan. Sebelum Poroz terbentuk, Ia mengatakan beberapa LAZ ormas seperti Lazismu dan Lazisnu sebenarnya sudah melakukan kolaborasi, misalnya dalam penggalangan donasi untuk Palestina.
Menurutnya, kehadiran Poroz menjadi komitmen bersama untuk memperkuat layanan zakat bagi masyarakat.
"Jika dilakukan oleh seluruh anggota Poroz, kita bisa melabuhkan hal-hal yang lebih besar. Semoga Poroz DIY bisa mewarnai dunia ZIS di Yogyakarta," ucapnya.
Sementara Wakil Ketua 4 Baznas DIY, Ahmad Luthfi, menyampaikan apresiasi atas terbentuknya Poroz. Ia menegaskan Poroz bukanlah pesaing, melainkan mitra kerja dalam memberikan layanan zakat kepada masyarakat.
"Kami berharap pengurus amanah dalam mengemban tugas ini dan ke depan bermanfaat bagi masyarakat. Sinergi ini kita harapkan bersama, khususnya tadi dalam membantu mengentaskan kemiskinan," ungkapnya.
Luthfi juga menekankan kolaborasi antar lembaga zakat sangat penting mengingat angka kemiskinan di DIY yang mencapai 10,23 persen, tertinggi di Jawa. Baznas tidak mungkin bekerja sendiri dalam menangani kemiskinan ekstrem. Butuh kolaborasi dan kerja bersama kedepannya termasuk bersama Poroz agar hasilnya akan lebih kuat.
"Tugasnya sama yaitu menjembatani para muzakki kemudian kita salurkan ke mustahik seperti ketentuan yang sudah ditetapkan di dalam Al Quran. Semoga berkah, amanah dan bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah," ujarnya.
"Kita ikut mengentaskan kemiskinan ekstrem dengan zakat produktif. Kalau kita nggarap PR hasilnya berbeda jika dikerjakan bareng-bareng," ucapnya menambahkan.
Apresiasi juga disampaikan oleh Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat, dan Wakaf (Penais Zawa) Kanwil Kemenag DIY, Nurhuda, yang menilai Poroz akan menjadi mitra strategis pemerintah dalam memaksimalkan program zakat.
"Kami mendorong agar segera menetapkan program kerja sehingga berbagai kegiatan kolaborasi bisa segera dilakukan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," katanya.