Ahad 11 Jun 2023 04:34 WIB

Cabor E-Sport dan Obstacle Race Diharap Segera Jadi Anggota KONI Sleman

Saat ini keanggotaan KONI Sleman berjumlah 46 cabor.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Yusuf Assidiq
Ilustrasi atlet esports
Foto: www.freepik.com
Ilustrasi atlet esports

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Cabang olahraga (cabor) obstacle race dan e-sport belum menjadi anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sleman, DIY. Ketua KONI Sleman, Joko Hastaryo, pun berharap kedua cabor tersebut bisa didaftarkan untuk menjadi anggota.

"Jadi kalau ada cabang olahraga yang belum jadi anggota KONI tadi obstacle race sama e-sport. Ya ke depan nanti mudah-mudahan bisa menjadi anggota KONI," kata Joko kepada wartawan, di Sleman, Jumat (9/6/2023).

Joko mengatakan cabor e-sport sebenarnya sudah menjadi anggota KONI di DIY. Namun di Sleman saat ini belum ada pengurusnya.

"Untuk e-sport di Sleman belum ada cabornya, belum ada pengurusnya sehingga belum jadi anggota KONI sebenarnya, tapi di provinsi atau di DIY sudah ada kepengurusannya, sehingga nanti bisa diurus selanjutnya untuk menjadi anggota KONI," ujarnya.

Joko mengatakan saat ini keanggotaan KONI di Sleman berjumlah 46 cabor dan tiga badan fungsional.Dijelaskan untuk menjadi anggota KONI di SLEMAN biasanya pengurus cabor di DIY melakukan inisiatif pendaftaran ke KONI kabupaten/kota.

"Itu biasanya datang dari pengurus cabor, biasanya setelah mendaftar KONI DIY sudah diakui di KONI DIY maka dia akan melanjutkan ke kabupaten kota, cabang olahraga akan dipertandingkan di porda kalau minimal diikuti kabupaten kota, sehingga sekarang ini mungkin karena Sleman belum ada sehingga di PORDA tidak dipertandingkan. padahal di tingkat KONI DIY sudah menjadi anggota," ungkapnya.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, bangga ada warga Sleman yang berhasil mengharumkan nama bangsa lewat olahraga. Untuk cabor e-sport dan obstacle run yang belum terdaftar anggota KONI Sleman, ia berharap kedua cabor tersebut bisa segera didaftarkan.

"Itu kan ada atlet yang baru tapi di DIY sudah masuk dan dia meraih perunggu karena warga Sleman sehingga saya merasa bangga, sehingga kedepan bisa dimasukan ke dalam anggota KONI, karena memang olahraga ini hitungannya baru dan sehingga dengan kemajuan teknologi, ke depan kita mengikuti perkembangan olahraga-olahraga apa yang bisa dipertandingkan di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Harapan saya seperti itu," kata Kustini.

Atlet obstacle race, Rahmayuna Fadillah, berharap cabor ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia. Ia mengatakan sejauh ini belum ada fasilitas yang memadai untuk olahraga tersebut di Indonesia.

Dirinya bahkan harus berlatih di Filipina. "Kemarin kita sempat TC di Filipina karena di Indonesia sendiri belum punya fasilitasnya," ungkap dia.

Ia mengatakan sejauh ini negara yang memiliki fasilitas lengkap untuk olahraga tersebut yakni Filipina dan Kamboja. Ia berharap pemerintah memberi perhatian pada cabor tersebut.

"Dengan kita bisa memberikan medali, mungkin Indonesia bisa diperbanyak fasilitasnya, lebih diperluas lagi cabornya biar dikenal juga," kata perempuan lulusan Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement