Jumat 25 Aug 2023 09:53 WIB

Panen Bawang Merah, Sultan HB X Dorong Pemanfaatan TKD untuk Pertanian

TKD harus disewakan kepada warga kalurahan setempat terlebih dahulu.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Yusuf Assidiq
  Panen perdana bawang merah di Desa Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Kamis (24/8/2023).
Foto: Dokumen
Panen perdana bawang merah di Desa Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Kamis (24/8/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Panen perdana bawang merah dengan metode elektrifikasi di Kelurahan Parangtritis berhasil memberikan keuntungan antara Rp 50 juta hingga Rp 70 juta per hektare. Dari setiap hektare lahan yang ditanami bawang merah dengan metode ini, mampu menghasilkan 18-20 ton, lebih tinggi di atas rata-rata nasional yang hanya menghasilkan 10 ton saja per hektarnya.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan, budi daya bawang merah dengan metode elektrifikasi di Kalurahan Parangtritis, Kretek, Bantul, mendapat dukungan dari dana keistimewaan, dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Bawang merah menurutnya hanya salah satu dari sekian banyak upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan. Terlebih saat ini, Sri Sultan sedang menggencarkan pemanfaatan Tanah Kas Desa untuk dipergunakan oleh masyarakat sebagai upaya meningkatkan taraf hidup.

“Bagi mereka yang miskin dan nganggur, wajib bagi kalurahan menyediakan sebagian TKD itu untuk digunakan mereka dengan sistem sewa. Mboten gadhah yotro kalau nyewa? Kita bayari pakai dana keistimewaan, nanti kalau ada hasil baru dikembalikan," ujar Sri Sultan usai memimpin panen Perdana bawang merah yang ditanam dengan metode agro electrifying pada Kamis (24/08/2023).

 

Menurutnya, TKD harus disewakan kepada warga kalurahan setempat terlebih dahulu untuk membantu perekonomian mereka. Mengenai keberhasilan pertanian yang mampu memberikan penghasilan lebih, Sultan ingin hasil tersebut mampu meningkatkan taraf kesejahteraan keluarga petani.

Ia berharap para petani tidak terlena dengan perilaku konsumtif, sehingga melupakan apa yang menjadi kewajibannya, yaitu menyejahterakan keluarga.

“Saya kira dengan kenaikan penghasilan itu bagaimana kehidupan keluarganya bisa lebih baik ya. Jangan Mo Limo (Madon, Mendem, Maling, Main, Madat). Pak Lurah nanti cabut izin penggunaan TKD mereka kalau mereka melakukan Mo Limo. Karena kita ingin semua itu untuk kebahagiaan maupun kehidupan keluarga itu jauh lebih baik, jangan di rusak. Anggere ora ngurusi keluargane, lemahe tak jaluk,” ujar Sultan.

Mengenai fluktuasi harga, Sultan menyebut lumrah dan  harus disikapi sewajarnya. Hal tersebut bisa disiasati oleh petani dengan membaca iklim dan musim.

Ia menyebut para petani di sini bisa belajar dari daerah lain, seperti Brebes, yang berhenti panen ketika memasuki September, agar bawang merah tidak busuk. Hal ini tentu menjadi salah satu cara untuk mengatasi fluktuasi harga.

“Saya berharap jangan terus semua nanam bawang merah, kira-kira 2000-2.500 hektare itu mungkin maksimal. Jangan sampai lebih, karena nanti fluktuasi harga makin menjadi, karena panennya tidak bareng. Nanti antar teman gapoktan saling bersaing, sehingga harganya malah jadi rusak. Jangan sampai, harus dijaga,” katanya.

Dirjen Hortikultura Kementan RI, Prihasto Setyanto mengatakan, ditinjau dari budi daya bawang merah ini, DIY berhasil mengelola lahan marginal menjadi lahan produktif yang mensejahterakan. Berbagai upaya melalui intervensi teknologi telah diterapkan guna mendukung upaya menjadikan kawasan Pantai Selatan sebagai lumbung pangan DIY.

“Istilah lemah mati dari urip benar-benar terwujud dalam kenyataan di DIY,” kata Prihasto. Ia mengaku cukup terpukau dengan produktivitas bawang merah di Parangtritis yang sangat tinggi.

Pun dengan kreativitas menyelipkan tanaman lain seperti cabai yang ditanam di sela-sela tanaman bawang merah. Hal ini menguntungkan, mengingat pada satu musim tanam bawang merah saja, cabai sebagai tanaman selingan, mampu dipanen hingga 30 kali.

Metode agro electrifying ini menurutnya selain menghemat operasional sebanyak 70 persen, juga mampu mengurangi penggunaan pestisida. Ia menjelaskan, permukaan air tanah di kawasan pertanian ini relatif dangkal.

Dengan adanya agro electrifying mampu menekan penggunaan pestisida, karena penggunaan  pestisida berlebihan pada muka air tanah  yang dangkal mengakibatkan pH tanah turun.

“Tadi kami datang ke lapangan bersama Pak Gubernur, melihat di kawasan pertanian, tidak ada bau pestisida. Biasanya kalau angin kencang begini, di daerah lain sudah sangat kencang bau pestisidanya," ungkapnya.

Artinya dengan konsep-konsep seperti yang sudah dikembangkan oleh masyarakat atau petani di DIY ini memberikan dampak positif yang luar biasa,” kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement