Kamis 14 Sep 2023 16:27 WIB

Mitra Deradikalisasi di Bima Diminta Kian Bijak Sikapi Keragaman Indonesia

Ia meminta semua anak bangsa ikut berperan aktif menjaga keutuhan NKRI.

Mitra deradikalisasi
Foto: Dok Istimewa
Mitra deradikalisasi

REPUBLIKA.CO.ID, BIMA -- Mitra deradikalisasi atau mantan narapindana terorisme (napiter) di Bima dan sekitarnya diminta main bijak dalam menyikapi keragaman yang ada di Indonesia. Pasalnya perbedaan di Indonesia itu sudah menjadi sunatullah dan negara Indonesia pun lahir sebagai negara kesepakatan dalam Bhinneka Tunggal Ika.

"Kita berbeda pemikiran dalam menjalankan agama sesuatu hal yang wajar, tetapi jangan sampai jadi permusuhan di antara kita. Oleh sebab itu apabila masih ada perbedaan pemikiran, lebih baik dibicarakan secara baik-baik. Karena yang berbeda itu sejatinya sama-sama mencari kebaikan, artinya sama-sama mencari keselamatan di dunia akhirat," ujar Kasubdit Bina Masyarakat (Binmas) Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Kolonel Pas Sujatmiko di Bima, Nusa Tenggara Barat, Rabu (13/9/2023).

Pernyataan itu diucapkan H Sujatmiko pada Silaturahmi Bersama Mitra Deradikalisasi di Pondok Kekayuan, Kota Bima. Kegiatan yang digelar Subdit Bina Masyarakat, Direktorat Deradikalisasi BNPT itu dihadiri 19 Mitra Deradikalisasi yang merupakan mantan narapidana terorisme yang telah kembali ke tengah-tengah masyarakat. Mitra deradikalisasi tersebut berasal dari wilayah Kota Bima, Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, dan Kabupaten Sumbawa Barat.

Lebih lanjut, H Sujatmiko berpesan para mitra deradikalisasi agar benar-benar menjauhi virus radikalisme. Pasalnya, virus itulah yang membuat mereka harus berurusan dengan hukum dan tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. "Agar kita sebagai Warga Negara menyadari virus radikalisme yang dapat merusak sendi-sendi berbangsa dan bernegara yang baik seperti anti Pancasila, anti NKRI, anti Kebhinnekaan, menganut paham takfiri dan kekerasan serta anti terhadap pemerintahan yang sah," ujar Kasubdit Bina Masyarakat BNPT.

 

Juga ditekankan kepada para mitra deradikalisasi agar jangan sampai mereka memelihara sikap anti terhadap pemerintahan yang sah. "Pemerintahan yang sah artinya didirikan sesuai kesepakatan seluruh bangsa Indonesia, oleh sebab itu perlu kita hormati dengan kritik yang baik," ujarnya.

Kepala Badan Kesbangpol Kota Bima Muh Hasyim memberikan pesan singkat kepada para mitra deradikalisasi. Ia meminta agar semua anak bangsa ikut berperan aktif menjaga keutuhan dan kemakmuran Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber yang juga mitra deradikalisasi dari Surabaya, Jawa Timur, Ustad Saifudin Umar. Dalam paparannya, Saifudin menjelaskan keunikan pandangan Ibnu Taymiyyah mengenai jihad toleransi yang dituliskan di dalam bukunya berjudul “Jihad Toleransi Ibn Taymiyyah’.

Ia mengungkapkan Ibnu Taymiyyah sudah hampir 7x masuk penjara karena pemikirannya, dan ketika Ibnu Taymiyyah ditawarkan untuk membalas memenjarakan ulama yang pernah memenjarakannya, Ibnu Taymiyyah menolak dengan alasan karena ulama tersebut masih bermanfaat untuk masyarakat.

"Uniknya pemikiran Ibnu Taymiyyah juga dipakai dimana-mana, orang-orang liberal  memakai pemikiran Ibnu Taymiyyah, dan orang-orang keras pun memakai pemikiran Ibn Taymiyyah, meski fatwa Ibnu Taymiyyah tersebut didistorsi oleh orang-orang keras," ujar Ustadz Saifuddin.

Ia juga mengungkapkan tentang lima kaidah takfir Ibnu Taymiyyah antara lain 1) Tidak boleh memudahkan pengkafiran; 2) Mengkafirkan adalah tuntutan syar’i, bukan akal; 3) Bahasanya bukan mengkafirkan, tetapi menyalahkan; 4) Mujtahid apabila melakukan kesalahan, tidak boleh dikafirkan; 5) Semua masalah membutuhkan pemaknaan atau tafsir yang tepat”.

Ustadz Saifuddin menutup materinya dengan menggarisbawahi bagaimana mensuritauladani Ibnu Taymiyyah yaitu sifatnya yang berlapang dada.

Kegiatan dilanjutkan diskusi dengan beberapa peserta mitra deradikalisasi bertanya mengenai perbedaan bid’ah dan penyebab ghuluw dalam takfir dan bagaimana cara menangkal ghuluw takfir. Di dalam salah satu jawabannya, Ustadz Saifuddin berpesan bahwa ghuluw bisa diobati, bisa diperbaiki. "Dan fungsi kita adalah meniatkan diri untuk dakwah dalam nama Allah SWT," tuturnya.

Kegiatan silaturahim ini juga dihadiri oleh Aparat Wilayah dan unsur Pemerintah Daerah, di antaranya Kesbangpol Kota Bima, Kodim 1608/Bima, Polresta Bima, dan Fasda Sinergitas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement