Senin 18 Sep 2023 10:04 WIB

Jagang, Garda Depan Pertahanan Benteng Keraton Yogyakarta

Tidak banyak yang mengetahui jagang didesain mengelilingi Beteng Keraton Yogyakarta.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi
Sepertiga bangunan benteng sisi Timur Keraton Yogyakarta yang sudah jadi, Yogyakarta, Selasa (22/8/2023). Pembangunan benteng Keraton Yogyakarta sisi Timur ini merupakan proyek revitalisasi Benteng Baluwarti Keraton Yogyakarta dengan tujuan mengembalikan ke bentuk semula. Proyek revitalisasi benteng sisi Timur ini merupakan tahap kedua yang dimulai Pojok Beteng Utara Timur menuju Plengkung Madyasura.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Sepertiga bangunan benteng sisi Timur Keraton Yogyakarta yang sudah jadi, Yogyakarta, Selasa (22/8/2023). Pembangunan benteng Keraton Yogyakarta sisi Timur ini merupakan proyek revitalisasi Benteng Baluwarti Keraton Yogyakarta dengan tujuan mengembalikan ke bentuk semula. Proyek revitalisasi benteng sisi Timur ini merupakan tahap kedua yang dimulai Pojok Beteng Utara Timur menuju Plengkung Madyasura.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Benteng berdinding tebal dan jagang/parit yang mengelilingi benteng merupakan satu kesatuan sistem pertahanan. Hal ini juga berlaku pada Benteng Keraton Yogyakarta, yang dipertegas menjadi kompleks dengan bangunan permanen dan dilengkapi bastion hingga plengkung.

Tidak banyak yang mengetahui, jagang didesain mengelilingi Beteng Keraton Yogyakarta. Jagang ini digunakan sebagai garda depan pertahanan, baik pada bangunan pertahanan maupun strategi peperangan. Penggunaan jagang pada awalnya merupakan pertahanan utama pada beteng dengan tujuan mengantisipasi serangan dari berbagai arah.

Baca Juga

Pada sisi luar Beteng Keraton Yogyakarta terdapat parit yang dalam, dan dengan air yang jernih. Bagian sisi luarnya diberi pagar bata setinggi satu meter.

Selain itu, pohon gayam ditanam sebagai peneduh di sepanjang jalan yang mengelilingi beteng. Namun, saat ini sebagian besar beteng telah tertutup pemukiman masyarakat sekitar, termasuk jagang yang tertimbun tanah.

 

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, bastion, plengkung, dan jagang sendiri merupakan komponen yang dimiliki oleh suatu beteng. Berdasarkan ekskavasi yang dilakukan Disbud DIY, hasilnya jagang berada di salah satu titik di depan Plengkung Gading, yang mana berjarak tiga sampai enam meter dari plengkung tersebut merupakan bibir jagang.

"Jagang itu parit pertahanan, dari data beberapa catatan naskah, kuda kala itu meloncat sekitar 3-6 meter tidak sampai. Analoginya, kami pernah melakukan ekskavasi jagang Beteng Vredeburg yang hasilnya mempunyai jarak 11-13 meter. Namun, belum dapat dipastikan apakah jagang Beteng Keraton Yogyakarta memiliki jarak demikian," kata Dian dalam keterangan resmi Pemda DIY, Ahad (17/9/2023).

Dari hasil ekskavasi, Dian juga menyebut bahwa baru enam meter di depan plengkung, jagang sudah terbentur dengan jalan, bahkan dugaannya masih lebih panjang. Sebagai langkah awal untuk jangka pendek dari Disbud DIY, pihaknya akan mencoba menghidupkan kembali salah satu jagang tersebut guna menunjukkan kepada publik bentuk asli bangunan cagar budaya kawasan beteng.

Sebab, beteng merupakan salah satu penanda keistimewaan dan media edukasi kepada generasi penerus. Hal ini juga menandakan pernah terjadi peristiwa riwayat perjalanan sejarah perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengamankan masyarakat di dalam beteng.

Meski demikian, kata dia, upaya pelestarian jagang tak semudah membalikkan tangan. Dian mengaku butuh upaya lebih dan kajian mendalam, terutama biaya untuk menghidupkannya kembali cagar budaya tersebut. Terlebih, area jagang sekarang sudah banyak berdiri bangunan-bangunan.

Namun, setidaknya Disbud DIY akan memulai terlebih dahulu untuk menghidupkan minimal mengutuhkan beteng menjadi satu kesatuan lengkap dengan plengkung, bastion, dan jagang melalui revitalisasi Beteng Keraton Yogyakarta yang saat ini terus berjalan. Pihaknya juga tengah mengkaji pembukaan jagang sebagai pilot project untuk dapat dibuka kepada masyarakat.

"Tetapi, apakah akan dihidupkan seperti dulu? Ya, saya tidak tahu keputusannya seperti apa, tapi itu akan butuh effort luar biasa. Minimal satu kesatuan komponen beteng itu bisa kita tampilkan untuk generasi mendatang," jelas Dian.

Dian menyebut, Disbud DIY juga perlu melakukan pengecekkan kembali status tanah yang ditempati, perjanjian hak dan kewajibannya dalam proses menghidupkan kembali cagar budaya ini. Ini bagian dari upaya Pemda DIY dan Keraton Yogyakarta mengedukasi masyarakat untuk sadar terhadap hak dan kewajibannya, sehingga proses revitalisasi ini dicoba dilakukan dan membutuhkan waktu yang panjang.

"Upaya revitalisasi Beteng Keraton ini sudah sesuai regulasi Perwal Kota Yogyakarta Nomor 118 Tahun 2021 tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota Yogyakarta Tahun 2021-2041, dimana harus ada buffer space beteng antara 1,5 atau 2,5 meter. Jadi tidak menggusur, tetap hanya menegakkan regulasi saja," ucapnya.

Terkait seberapa penting pembukaan jagang beteng, Dian menuturkan bahwa hal ini kembali kepada seberapa penting Keistimewaan DIY. Berbicara Keistimewaan DIY, katanya, unjung-ujungnya yakni untuk kesejahteraan masyarakat.

Untuk mencapai kesejahteraan tersebut, Dian mengatakan, maka masyarakatnya harus mempunyai identitas dan karakter, sehingga tidak hanya semata-mata fisik tetapi juga immaterial. "Masyarakat Yogyakarta yang masih mengagumi beberapa nilai yang disimbolkan dalam beberapa bangunan heritage. Ketika nilai -nilai itu ada dikandung bangunan Keraton Yogyakarta, salah satunya masuk ke dalam beteng maka seluruh komponen bangunan beteng tidak boleh hilang. Karena cara kita bercerita tentang makna beteng harus ada bangunan beteng yang utuh," ungkap Dian.

Dian menegaskan, konsep beteng ini menjadi bagian historis, ilmu pengetahuan, dan nilai masa. Posisinya, beteng sekarang itu sedang terancam kerusakan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Disbud DIY.

Dijelaskan, Beteng Keraton Yogyakarta rusak karena intervensi bangunan-bangunan di sekelilingnya, dan dinamika kota dimana ada beteng yang seharusnya tertutup menjadi terbuka hanya untuk memudahkan mobilitas orang keluar masuk.

"Apabila sebelumnya ada beteng yang ditutup (arah Jalan Bantul) itu karena ingin mengembangkan makna beteng sebagai penanda pertahanan. Selain itu, penanda penguatan masyarakat DIY akan nilai-nilai, sehingga Disbud DIY akan mencoba mengutuhkan kembali beteng yang mempunyai komponen berupa bastion, plengkung, dan jagang," kata Dian.

Sebelumnya, keadaan beteng dan sekitarnya pada zaman dahulu tersebut digambarkan dalam gubahan tembang Mijil yang dilansir dari situs Kemendikbud RI.

 

Ing Mataram betengira inggil,

 

Ngubengi kadhaton,

 

Plengkung lima mung papat mengane,

 

Jagang jero, toyanira wening,

 

Tur pinacak suji,

 

Gayam turut lurung.

 

Secara garis besar, lirik dari tembang tersebut menunjuk keberadaan beteng yang mengitari Keraton, memiliki lima plengkung yang hanya tersisa empat, memiliki parit, dengan pohon gayam yang turut bersemi di sekelilingnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement