Rabu 22 Nov 2023 07:56 WIB

Berpikir dan Bekerja

ChatGPT dapat digunakan untuk membantu banyak pekerjaan.

Prof Ema Utami dari Universitas Amikom Yogyakarta
Foto: amikom
Prof Ema Utami dari Universitas Amikom Yogyakarta

Oleh: Prof Ema Utami*

 

REPUBLIKA.CO.ID, Hari ini, Rabu, 22 November 2023, saya berkesempatan berbagi pengetahuan dalam seminar nasional yang mengusung tema Tantangan Regulasi dan Kebijakan Artificial Intelligence di Perpustakaan. Seminar nasional diselenggarakan oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) DIY yang pada 14 November 2023 lalu genap berusia 20 tahun.

Tercatat, kegiatan ini dihadiri 120 peserta dari 70 instansi. Dalam kesempatan ini saya memaparkan materi yang saya beri judul Bagaimana Pustakawan Berpikir dan Bekerja Seiring dengan Perkembangan Artificial Intelligence.

 

AI sendiri bisa dikatakan mulai dikenal dan dikembangkan sejak 1950 dari sebuah pertanyaan oleh Alan Turing “Dapatkah sebuah mesin berpikir ?” dalam paper-nya yang dipresentasikan pada suatu seminar. Saat ini perkembangan AI sudah demikian pesat dan mulai merambah ke banyak bidang tidak terkecuali perpustakaan.

Perkembangan AI ini mendapat momentum seiring dengan semakin banyaknya penerapan Generative AI (GenAI) ke berbagai aplikasi. Aplikasi berbasis GenAI untuk menghasilkan objek baru seperti gambar, suara, bahkan video dari suatu teks deskripsi semakin banyak dikembangkan saat ini.

Kekuatan GenAI yang mampu memahami input berupa teks deskripsi kemudian menerjemahkan ke berbagai bentuk sesuai dengan tujuan yang diharapkan pengguna, saat ini mengalami kemajuan yang luar biasa. Perkembangan ChatGPT yang merupakan salah satu aplikasi berbasis GenAI, dari versi 1 di 2018 yang masih berupa proof of concept sampai dengan versi 4 pada 2023 yang sudah dapat memahami input teks deskripsi dengan menggunakan bahasa yang umum digunakan oleh manusia dalam berkomunikasi sehari-hari.

Tulang punggung dalam perkembangan GenAI dalam memahami bahasa komunikasi manusia ini adalah bidang ilmu yang dikenal dengan sebutan Natural Language Processing (NLP).  

Kemampuan berkomunikasi dengan bahasa keseharian manusia ini merupakan terobosan besar yang memicu kemunculan berbagai aplikasi yang bisa digunakan untuk berbagai bidang, salah satunya adalah perpustakaan. Kemampuan membaca dan menerjemahkan maksud dari suatu teks yang beragam isinya menjadikan GenAI dapat digunakan untuk membantu berbagai pekerjaan.

Proses kajian pustaka, melakukan peringkasan teks, menyusun parafrase, sampai dengan membuat sebuah artikel pada saat ini sangat dimungkinkan untuk dibantu dengan aplikasi berbasis AI.

Sebuah file spreadsheet yang berisi data sirkulasi perpustakaan Universitas Amikom Yogyakarta yang saya gunakan sebagai contoh dalam presentasi hari ini dengan cepat bisa dipahami oleh ChatGPT. Perintah untuk melakukan analisis data terhadap data dalam file excel tersebut bisa dengan mudah disampaikan dengan bahasa keseharian, semisal “Buatlah grafik garis perbandingan peminjaman buku per bulannya di 2022 dan 2023, gunakan garis merah untuk tahun 2022 dan garis hijau untuk 2023”.

Dengan berbagai kemampuan memahami bahasa keseharian ini tentu menjadikan ChatGPT dapat digunakan untuk membantu banyak pekerjaan. Tidak dimungkiri bahwa berbagai kemajuan dari bidang AI ini memunculkan kekhawatiran tersendiri dari beberapa pihak.

Sebuah survei yang dilakukan di Amerika pada Agustus 2023 lalu juga menyampaikan hal yang senada. Dari survei tersebut, pengguna ChatGPT paling banyak adalah mereka yang memiliki pendidikan sarjana ke atas. Survei tersebut juga menyampaikan bahwa pekerjaan di bidang IT dan pendidikan merupakan bidang yang terkena dampak paling besar atas kehadiran ChatGPT.

Perpustakaan sebagai salah satu bidang yang berkaitan erat dengan pendidikan dipastikan juga terimbas dengan adanya AI secara umum, maupun GenAI seperti ChatGPT secara khusus. Koreksi dan evaluasi diri untuk terus bisa beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi termasuk kehadiran AI ini merupakan hal yang tidak bisa dihindari dan menjadi sebuah keharusan yang perlu dipersiapkan bersama-sama.

Adanya seminar nasional yang diadakan oleh FPPTI DIY hari ini tentu patut diberikan apresiasi sebagai salah satu bentuk ikhtiar beradaptasi dalam berpikir dan bekerja seiring dengan perkembangan AI. Tidak dimungkiri bahwa kehadiran teknologi baru dapat menimbulkan ketakutan tersendiri.

Dengan terus berusaha untuk mengetahui bagaimana suatu teknologi baru tersebut bekerja tentu diharapkan orang akan mampu menggunakan dan memanfaatkannya dengan baik dan bijaksana. Ketakutan adanya sesuatu yang baru kemudian disikapi dengan usaha untuk mengenal dan memanfaatkan tersebut juga diisyaratkan dalam kisah Nabi Musa AS dan tongkatnya seperti tertulis dalam berbagai ayat dalam Al Quran.

Kisah itu salah satunya terekam dalam surat Thaha ayat 17-21, "Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa "Dia (Musa) berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain." Dia (Allah) berfirman, "Lemparkanlah ia, wahai Musa!" Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Dia (Allah) berfirman, "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula”. Wallahu a’lam.

*Wakil Direktur Program Pasca Sarjana Universitas Amikom Yogyakarta

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement