Selasa 05 Dec 2023 04:14 WIB

Koperasi Ponpes Didorong Jadi Klaster Pertumbuhan Ekonomi Baru

Terdapat 39 ribu lebih pesantren dengan jumlah santri empat juta di Indonesia.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Yusuf Assidiq
Koperasi pesantren.  (ilustrasi)
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Koperasi pesantren. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) mendorong koperasi pondok pesantren (kopontren) menjadi klaster pertumbuhan ekonomi baru. Salah satu caranya dengan menghubungkannya ke rantai pasok usaha besar maupun global.

Termasuk yang ada di Sumatra Utara untuk menjadi klaster pertumbuhan ekonomi baru, dengan terhubung ke dalam rantai pasok usaha besar maupun global.

Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Bidang Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan, M Riza Damanik mengatakan, sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, UMKM Indonesia seharusnya bisa menjadi kiblat dari industri halal di dunia. Apalagi, lanjutnya, negeri ini memiliki 39 ribu lebih pesantren, dengan jumlah santri sebanyak empat juta.

“Ini merupakan potensi untuk memulai pengembangan ekonomi berbasis rantai pasok. Dengan begitu UMKM kita bisa menjadi kiblat dari industri halal dunia,” kata Riza.

 

Guna mencapai hal tersebut, kata dia, terdapat dua prasyarat dalam mewujudkan Indonesia sebagai kiblat industri halal dunia, yakni Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan memiliki inovasi teknologi. Ia menyebutkan, dulu kekuatan berbagai negara di dunia mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA), siapa yang memiliki SDA berlimpah merekalah yang berkuasa.

"Namun sekarang sudah berubah. Negara yang memiliki SDM yang kuat, mereka yang menguasai dunia,” ujar Riza.

Maka, ia meyakini kegiatan capacity building terhadap 30 pengurus Kopontren, dengan tema ‘Penguatan Manajemen Bisnis dan Rantai Pasok Pengembangan Usaha’ yang diselenggarakan pada 30 November hingga 3 Desember 2023 di Sumatra Utara, mampu melahirkan pejuang ekonomi tangguh dan mandiri berbasis kopontren. Itu karena, tegasnya, SDM unggul sangat penting.

Riza mencontohkan Jepang yang menetapkan industri strategis nasionalnya pada industri otomotif dan elektronik. Maka dalam waktu yang bersamaan sentra-sentra UMKM Jepang menjadi pendukung industri tersebut.

“Maka setiap kita menggunakan mobil buatan Jepang, sesungguhnya kita menggunakan spare part mobil dari UMKM Jepang. Kontribusi UMKM Jepang terhadap PDB-nya sudah lebih dari 60 persen, UMKM Jepang terhubung dengan rantai pasok usaha besar,” ujar dia.

Ia juga meminta kopontren di Sumatra Utara untuk mencontoh Kopontren Al-Ittifaq yang telah sukses terhubung dengan pasar ritel modern seperti AEON Mall, Superindo, dan lainnya.

“Setelah skema ini terjadi, koperasi mendapatkan pembiayaan, petani yang tadinya tidak mengakses pembiayaan menjadi bisa mengakses pembiayaan. Koperasi mendapat pembiayaan dari LPDB-KUMKM," jelasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement