Kamis 14 Dec 2023 10:19 WIB

Dinkes Sebut Sebagian Warga Yogya Enggan Imunisasi Pneumonia

Imunisasi yang diberikan dapat diakses masyarakat secara gratis.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) kepada seorang balita saat imunisasi pneumonia (ilustrasi)
Foto: ANTARA/M Ibnu Chazar
Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) kepada seorang balita saat imunisasi pneumonia (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta menyebut belum semua masyarakat mau untuk mengakses imunisasi pencegahan pneumonia. Dikatakan, masih ada masyarakat yang enggan untuk divaksin.

Padahal, imunisasi seperti Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) bertujuan untuk mencegah pneumonia pada anak. Masih enggannya masyarakat mengakses imunisasi ini, menyebabkan capaiannya masih belum bisa mencapai 100 persen di Kota Yogyakarta.

"Jadi bagi yang baru tahu sekarang silakan mengakses di layanan puskesmas untuk imunisasi PCV," kata Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah.

Lana menyebut, imunisasi PCV diberikan untuk bayi berusia dua bulan, tiga bulan, dan satu tahun. Untuk itu, masyarakat yang memiliki anak agar mengakses imunisasi PCV sesuai dengan umur atau jadwal.

 

Meski terlambat mengakses imunisasi ini, diharapkan tetap dilakukan imunisasi pada anak. "Yang penting pada bayi diimunisasi PCV. Vaksin sebaiknya memang tepat waktu, tapi tidak ada kata terlambat," ujarnya.

Ia menegaskan, imunisasi yang diberikan pemerintah juga dapat diakses masyarakat secara gratis. Untuk itu, warga yang memiliki anak diminta agar melengkapi imunisasinya untuk mencegah pneumonia.

"Padahal vaksin yang diberikan pemerintah gratis, apalagi di puskesmas. Kalau di rumah sakit berbayar itu (untuk) jasa dokternya, vaksinnya juga dari pemerintah. Imunisasi atau vaksinasi itu penting untuk mencegah penyakit. Pemerintah sudah menyediakan vaksin demi perlindungan penyakit khususnya pada bayi dan balita," jelas dia.

Pneumonia bisa disebabkan jamur, virus, dan bakteri. Saat ini di Kota Yogyakarta dikatakan kasus pneumonia masih terkendali, meski sudah ditemukan ratusan kasus selama 2023 ini.

Namun, belum ditemukan kasus pneumonia yang disebabkan oleh mycoplasma seperti yang ditemukan di DKI Jakarta. "Kebanyakan pneumonia di Yogya masih kategori sedang, sehingga tidak memerlukan rawat inap. Mayoritas dapat diobati dengan rawat jalan," ungkapnya.

Berdasarkan data Dinkes Yogyakarta, tercatat capaian imunisasi PCV sampai triwulan III 2023 sudah mencapai 91,1 persen untuk PCV dosis pertama. Sedangkan, capaian untuk PCV dosis kedua sebesar 87,7 persen, dan PCV dosis ketiga mencapai 23,5 persen.

“Data itu belum divalidasi imunisasi karena Desember ini masih berjalan layanan imunisasi (PCV),” kata Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Yogyakarta, Endang Sri Rahayu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement