Selasa 19 Mar 2024 13:26 WIB

Rakit Bahan Petasan, Empat Remaja di Wonogiri Terkena Ledakan

Bahan untuk membuat petasan disebut diberi secara daring.

Rep: Muhammad Noor Alfian Choir/ Red: Irfan Fitrat
(ILUSTRASI) Garis polisi.
Foto: Antara/Jafkhairi
(ILUSTRASI) Garis polisi.

REPUBLIKA.CO.ID, WONOGIRI — Empat remaja di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, dilaporkan terluka akibat ledakan yang diduga terjadi saat meracik bahan petasan. Tiga korban dikabarkan dirawat di RSUD Dr Moewardi, Solo. Sementara satu korban lain mengalami luka bakar ringan dan menjalani rawat jalan.

Menurut Kepala Polres (Kapolres) Wonogiri AKBP Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, melalui Kepala Seksi Humas AKP Anom Prabowo, peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada Ahad (17/3/2024) di sekitar salah satu toko kawasan Kecamatan Slogohimo. Empat remaja yang menjadi korban berinisial AA (12 tahun), DA (14), GK (15), dan NM (14).

Baca Juga

“Diduga sedang membuat racikan bahan untuk membuat petasan. Namun, nahas, bahan-bahan tersebut malah meledak,” kata Anom, saat dikonfirmasi, Selasa (19/3/2024).

Anom menjelaskan, awalnya empat remaja yang merupakan warga Bulusari, Kecamatan Slogohimo, itu berkumpul di salah satu toko. Menurut dia, remaja berinisial AA dan DA kemudian meracik beberapa bahan petasan pada cobek, untuk ditumbuk. Kemudian terjadi ledakan.

“Dari keterangan korban, bahan-bahan yang meledak tersebut terdiri dari satu paket serbuk belerang, arang, dan kalium nitrat,” kata Anom.

Berdasarkan keterangan dari korban, menurut Anom, mereka mencoba merakit petasan dengan bahan-bahan yang dibeli secara daring. Petasan yang dihasilkan rencananya dinyalakan di area persawahan. 

Anom mengatakan, tim dari Brimob Polda Jawa Tengah sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) kasus ledakan tersebut. Ada sejumlah barang bukti yang diamankan dari lokasi, antara lain serbuk belerang, residu flash powder, residu black powder, sumbu api, dan 12 kaleng susu.

Selain itu, diamankan barang bukti berupa kepala muntu, lem perekat, pecahan genting, dan pecahan keramik. “Belajar dari kejadian ini, kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak bermain petasan, apalagi membuat petasan karena hal tersebut sangat berbahaya,” kata Anom.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement