Rabu 10 May 2023 16:36 WIB

Warga Yogyakarta yang Air Sumurnya Tercemar Berat Diimbau Buat Sumur Baru

Jarak minimal septic tank dengan sumur harus 10-15 meter.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Warga mengambil air untuk keperluan sehari-hari di sumur (ilustrasi)
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Warga mengambil air untuk keperluan sehari-hari di sumur (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Warga di Kelurahan Mantrijeron Kota Yogyakarta yang air sumurnya sudah dilakukan pengujian dengan hasil tercemar berat, diminta untuk membuat sumur baru. Terutama yang ditemukan adanya kadar besi, seng, hingga nitrat (NO2).

Penanggung jawab pengujian air sumur di Kelurahan Mantrijeron, Sungadi mengatakan, dari sejumlah air sumur warga yang dilakukan pengujian, sebagian besar tercemar bakteri E.coli. Namun, air yang tercemar E.coli ini masih dapat dikonsumsi jika diproses dengan baik, yakni dengan direbus hingga mendidih.

Meski begitu, ada warga yang air sumurnya tercemar berat karena mengandung kadar besi dan seng. Bagi yang air sumurnya tercemar berat, maka diminta agar tidak mengkonsumsi air tersebut.

"Untuk kualitas air yang tercemar seng atau besi, itu yang memberatkan (pencemaran dibandingkan E.coli), dan juga nitrat," kata Sungadi yang juga merupakan Kasi Pemerintahan Keamanan dan Ketertiban Kelurahan Mantrijeron saat ditemui Republika di kantor Kelurahan Mantrijeron, Rabu (10/5/2023).

 

Untuk itu, bagi warga yang air sumurnya tercemar berat diharapkan untuk membuat sumur baru. Jika tidak, dapat menggunakan air PDAM.

"Kita mengimbau, bila tercemar ini kalau memang banyak mengandung besi dan seng, diharapkan masyarakat untuk mengganti air sumur, menggali, atau membuat sumur bor, kalau tidak begitu silakan mendaftar di PDAM," ujar Sungadi.

Beberapa warga yang hasil pengujian air sumurnya sudah dikeluarkan, lebih banyak yang memilih untuk membangun sumur baru. "Lebih banyak yang milih bangun sumur baru, seperti ada warga yang kualitasnya sangat jelek, tapi yang lainnya cukup baik," jelasnya.

"Memang yang kita tekankan (untuk membangun sumur baru) bagi yang ada kadar besi dan seng, karena kalau dimasak tidak hilang. Beda dengan E.coli yang dimasak hingga mendidih, bakterinya bisa mati," jelasnya.

Sementara itu, Ketua RT 40/RW 11, Kelurahan Mantrijeron, Anjang mengatakan, ada 12 warga di kawasan tersebut yang air sumurnya sudah diuji. Termasuk miliknya sendiri, meski hingga saat ini Anjang masih menunggu hasil dari pengujian tersebut.

Menurut Anjang, jika hasil dari pengujian ini nantinya menunjukkan bahwa air sumurnya tercemar berat, maka ia akan membangun sumur baru. Terlebih, Anjang dan beberapa warga lainnya juga masih menggunakan air sumur untuk dikonsumsi sehari-hari.

"Rencana saya, nanti kalau sumur ini jelek saya mau bikin sumur bor," katanya. Saat ini, Anjang dan keluarganya masih menggunakan sumur yang lokasinya tidak jauh dari septic tank, yakni hanya berjarak lima meter.

Sementara jarak minimal septic tank dengan sumur ini harus 10-15 meter. Jarak yang berdekatan tersebut yang menjadi salah satu air sumur tercemar. "Sumur yang sekarang kurang lebih (jaraknya dengan septic tank) kurang lebih lima meter," ujarnya.

Ia mengaku bahwa sulit untuk membangun sumur yang berjauhan dengan septic tank. Hal ini dikarenakan Kota Yogyakarta yang merupakan padat penduduk, termasuk di kawasan tempat tinggalnya.

"Kalau buat dengan jarak 10 meter (antara septic tank dengan sumur) sekarang tidak bisa di Kota Yogya itu. Di samping lahannya sempit, ya juga berdekatan dengan tetangga," jelas Anjang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement