Rabu 20 Sep 2023 09:14 WIB

Ganjar Sampaikan Transformasi Enam Pilar Strategis di UGM

Ganjar mengatakan India kini tidak lagi mau mengekspor pangan.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Fernan Rahadi
Bakal calon presiden (Bacapres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ganjar Pranowo menjawab pertanyaan saat Mata Najwa 3 Bacapres Bicara Gagasan di Grha Sabha Pramana, UGM, Yogyakarta, Senin (19/9/2023). Selama 90 menit Bacapres Ganjar Pranowo ditantang berbicara gagasan dan menjawab pertanyaan bagaimana nanti memimpin Indonesia yang dipandu oleh Najwa Shihab. Topik paling banyak dipilih yakni terkait Korupsi dan Penegakan Hukum, lapangan kerja, dan kebebasan berpendapat paling banyak disorot untuk Ganjar yang tampil pada sesi kedua.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Bakal calon presiden (Bacapres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ganjar Pranowo menjawab pertanyaan saat Mata Najwa 3 Bacapres Bicara Gagasan di Grha Sabha Pramana, UGM, Yogyakarta, Senin (19/9/2023). Selama 90 menit Bacapres Ganjar Pranowo ditantang berbicara gagasan dan menjawab pertanyaan bagaimana nanti memimpin Indonesia yang dipandu oleh Najwa Shihab. Topik paling banyak dipilih yakni terkait Korupsi dan Penegakan Hukum, lapangan kerja, dan kebebasan berpendapat paling banyak disorot untuk Ganjar yang tampil pada sesi kedua.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Bakal Capres Ganjar Pranowo memaparkan sejumlah gagasannya di acara 3 Bacapres Bicara Gagasan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (19/9/2023) malam. Ganjar menyampaikan transformasi enam pilar strategis untuk menuju Indonesia Emas 2045. "Satu, soal pangan yang musti dipenuhi," kata Ganjar, Selasa. 

Ganjar mengatakan India kini tidak lagi mau mengekspor pangan. Begitu juga dengan Thailand dan Vietnam yang mulai menahan diri. Untuk itu Ganjar menekankan perlunya aktivasi birokrasi untuk pantau ketersediaan penawaran (supply) dan permintaan (demand), menggenjot sentra produksi bahan pokok serta menyeimbangkan neraca ekspor-impor pangan.

Baca Juga

Pilar berikutnya, yakni soal lingkungan. Ganjar menyoroti adanya gangguan ISPA akibat polusi yang luar biasa. "Mengurangi gas emisi, ekonomi hijau, ekonomi biru yang menjadi potensi untuk bisa kita gunakan," ucapnya. 

Selanjutnya, Ganjar juga menilai transformasi digital menjadi hal yang sangat penting. Tidak cukup, menurut dia, hanya mengandalkan manusia.

 

"Kita butuh alat, apa instrumen yang bisa membantu, artificial intelligence, dunia digital yang infrastrukturnya mulai disiapkan sejak sekarang dan remote area pun menjadi fair. Ada keadilan yang mereka terima sehingga dia bisa mendapatkan itu," ungkapnya. 

Kemudian mantan gubernur Jawa Tengah itu juga menyinggung soal pentingnya energi baru terbarukan. Selain itu, pendidikan dan kesehatan juga menjadi pilar strategis yang menurutnya perlu ditransformasi. 

"Modal manusia sehat, modal mereka yang sehat lahir batin adalah yang utama. Kalau itu kita sudah punya, tidak ada stunting, maka pertumbuhan jiwanya bagus, fisiknya bagus, otaknya bagus begitu dikasih pendidikan bagus mereka mendapatkan itu, pendidikan dan kesehatan yang baik," ucapnya. 

Namun menurutnya hal itu tidak akan berjalan baik apabila penegakan hukumnya lemah. Karena itu menurut Ganjar menjadi kewajiban pendidikan antikorupsi dilakukan sejak dini. "Bangun integritas dari dini," kata dia. 

Melihat sejumlah hal di atas, Ganjar mengungkapkan tiga fondasi utama yakni melipat gandakan anggaran, melakukan digitalisasi pemerintahan, dan membasmi korupsi. Politikus PDIP menyebut ada tujuh strategi yang akan dilakukan yakni membangun SDM, stabilisasi harga bahan pokok, menghapus kemiskinan, memperkuat jaring pengaman sosial, hilirisasi menuju industri kelas dunia, meningkatkan nilai tambah infrastruktur, dan mengembalikan alam Indonesia. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement