Rabu 05 Jul 2023 15:59 WIB

Sultan HB X Apresiasi Keragaman Tema ARTJOG 2023: Jadi Daya Tarik Pecinta Seni

Ajang seni rupa tahunan ini menampilkan 73 karya seniman.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Yusuf Assidiq
Pengunjung melihat karya saat ArtJog 2023 di Jogja National Museum, Yogyakarta, Senin (3/7/2023). Pada ArtJog tahun ini mengusung tema Motif: Lamaran. Pameran kali ini banyak karya dari seniman-seniman baru sehingga menjadi lebih segar. Dari 73 seniman yang terlibat, 75 persen diantaranya baru ikut pertama kali. Gelaran pameran terbesar di Yogyakarta ini akan berlangsung hingga 26 Agustus mendatang.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Pengunjung melihat karya saat ArtJog 2023 di Jogja National Museum, Yogyakarta, Senin (3/7/2023). Pada ArtJog tahun ini mengusung tema Motif: Lamaran. Pameran kali ini banyak karya dari seniman-seniman baru sehingga menjadi lebih segar. Dari 73 seniman yang terlibat, 75 persen diantaranya baru ikut pertama kali. Gelaran pameran terbesar di Yogyakarta ini akan berlangsung hingga 26 Agustus mendatang.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai pelaksanaan ARTJOG 2023 sangat menarik karena mengusung tema yang berbeda. Ajang seni rupa tahunan yang menampilkan 73 karya seniman baik dewasa maupun anak ini telah bertumbuh dengan sendirinya, seiring banyaknya peserta dan beragamnya tema.

Dengan demikian mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta seni rupa. "ARTJOG ini sudah bisa mandiri, pesertanya makin banyak dan besar. Karena punya bendera sendiri, saya kira sudah bisa tumbuh sendiri sehingga menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi para pencinta seni rupa," ujar Sri Sultan usai berkeliling melihat karya seni yang ditampilkan dalam ARTJOG 2023 di Jogja National Museum (JNM) pada Selasa (04/07/2023) malam.

Turut hadir menemani putri bungsu Sri Sultan, GKR Bendara, beserta sang suami KPH Yudanegara, dan kedua buah hatinya. Selama kurang lebih satu jam, Raja Keraton Yogyakarta berkeliling seluruh area ruang pamer dipandu CEO ARTJOG Heri Pemad dan salah satu kurator ARTJOG, Bambang ‘Toko’ Witjaksono. ARTJOG 2023 yang bertema Motif:Lamaran ini berlangsung mulai 30 Juni sampai 27 Agustus mendatang.

Menurut Sri Sultan dengan tema yang diusung kali ini, pola penataan ruang dan sebagainya memang masih terlalu kecil karena menggunakan ruang pamer bekas sekolah. Namun bagi Sri Sultan yang penting bukan tempatnya tetapi pencahayaan yang benar sehingga orang-orang bisa menikmati.

"Saya lebih baik sedikit orang datang daripada banyak orang namun tidak bisa menikmati. Jadi saya ucapkan selamat dan sukses saja bagi ARTJOG. Sebab bukan kuantitatif tetapi kualitatif, pesertanya diseleksi dan dikurasi sehingga pengunjung yang datang cara menikmati dan selera sendiri," ungkapnya.

Sri Sultan pun menaruh harapan agar ARTJOG semakin maju dan mampu mewujudkan kemandirian. Kemandirian itulah yang paling penting. Mengingat seni itu tergantung selera atau bagaimana mood-nya pada saat seniman melukis dan bagaimana cara seseorang untuk melihat dan merasakan.

Jadi kebebasan itu harus bisa terjadi dalam berseni. "Saya kira bagus dan saya pribadi sangat menikmati tema karya seni yang ditampilkan dalam ARTJOG. Selamat saja atas terselenggaranya ARTJOG 2023," imbuhnya.

CEO sekaligus Founder ARTJOG, Heri Pemad, menyampaikan tema ARTJOG yakni Motif: Lamaran kali ini merupakan sebuah metode atau mekanisme kuratorial. Bukan tema yang diartikan secara konkret motif itu apa dan lamaran itu apa, namun bentuk metode awal dari periode jabatan kuratorial selama tiga tahun ke depan.

Motif ini akan berkembang tahun depan yang memang dikemas sebagai tema trilogi. Sekarang temanya Motif : Lamaran, di mana lamaran sendiri tidak ada korelasinya dengan tema, itu metode atau cara. Pertama, kurator berkunjung ke studio seniman supaya lebih dekat dengan motif atau modus.

"Dengan kata lain metode lamaran adalah melamar seniman untuk menjadi peserta ARTJOG, kecuali peserta open call di bawah usia 35 tahun tetap mendaftar," ujarnya.

Heri menyebut seniman di Tanah Air sudah hebat dan berkualitas sejak zaman dulu. Hal yang belum mendukung justru dari sisi infrastukturnya alias penempatan pameran, bentuk besaran kemasan dan lain-lain beserta eventnya itu yang belum.

Diharapkan kegiatan ARTJOG menjawab itu karena yang harus dibangun yaitu event dan infrastruktur. Kebutuhan ruang menjadi sebuah urgensi yang harus disampaikan kepada pemerintah.

"Harapan kami dengan fasilitas infrastruktur yang memadai akan lahir atau muncul gagasan atau ide ataupun karya yang gila lagi. Kadang terbatas dengan ruang sehingga itu menjadi sebuah urgensi di wilayah infrastruktur seni rupa yang mampu menopang perkembangan karya-karya para seniman," kata dia.

Total seniman yang terlibat sebanyak 73 seniman, 51 seniman dewasa, dan 22 seniman anak. Namun jumlah seniman yang terlibat lebih dari 200 seniman, karena ada kolaborasi dan dukungan yang mampu membesarkan ARTJOG. Seniman yang terlibat tidak hanya dari Indonesia semata, tetapi juga seniman mancanegara seperti Australia.

Heri menambahkan, peserta ARTJOG kali ini, setidaknya 75 persen belum pernah ikut alias baru pertama kali ikut. Pihaknya juga menantang kurator untuk memberikan kebaruan, tidak hanya kemasan secara tema, tetapi senimannya baik kategorinya berikut sebagai peserta.

"Ini merupakan kolaborasi dan pengalaman baru bagi kami semuanya maka banyak komentar lebih segar atau fresh dengan konten utamanya adalah karya seniman," jelasnya.

ARTJOG 2023 ingin menghadirkan sebuah pengalaman khusus kepada penontonnya yang lahir dari proses interaksi dan komunikasi antara kurator dan seniman, yang disebut lamaran. Hal ini pada akhirnya akan dikomunikasikan kepada publik dalam bentuk karya seni yang diolah dan dikelola dengan sungguh-sungguh.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement