REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melantik 11 dekan periode 2026–2030 di Ruang Amphitarium Kampus IV UAD, Selasa (4/8/2026). Pelantikan tersebut menjadi momentum estafet kepemimpinan akademik di seluruh fakultas sekaligus bagian dari persiapan UAD untuk menghadapi proses akreditasi institusi pada 2027 mendatang.
Sebanyak 11 dekan yang dilantik antara lain Prof Suyadi, sebagai Dekan Fakultas Agama Islam, Dr Sumaryanto, sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prof Fatwa Tentama, sebagai Dekan Fakultas Psikologi; serta Prof Wajiran sebagai Dekan Fakultas Sastra, Budaya, dan Komunikasi.
Selanjutnya, Prof Fithriatus Shalihah dilantik sebagai Dekan Fakultas Hukum, Muhammad Sayuti, sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prof Siti Jamilatun sebagai Dekan Fakultas Teknologi Industri, Dr apt Wahyuningsih sebagai Dekan Fakultas Farmasi, Muhammad Syamsu Hidayat, dilantik sebagai Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, dr Moch. Junaidy Heriyanto sebagai Dekan Fakultas Kedokteran, dan Iwan Tri Riyadi Yanto sebagai Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Terapan.
"Pelantikan dekan pada hari ini bukan sekadar pergantian jabatan struktural, melainkan estafet kepemimpinan akademik yang akan menentukan arah perkembangan fakultas dan Universitas Ahmad Dahlan dalam beberapa tahun ke depan," ujar Rektor UAD, Prof Muchlas saat menyampaikan sambutannya, Selasa (4/8/2026).
Muchlas mengatakan, proses penetapan dekan telah dilakukan sesuai ketentuan Persyarikatan Muhammadiyah melalui mekanisme yang mengedepankan profesionalisme, objektivitas, serta nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Ia juga mengapresiasi Senat Fakultas dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah memberikan pertimbangan dalam proses penetapan dekan.
Selain itu, Muchlas menyampaikan penghargaan kepada para dekan periode 2022–2026 atas dedikasi dan pengabdian selama memimpin fakultas masing-masing. Menurutnya, berbagai capaian UAD, termasuk keberhasilan mempertahankan dan meningkatkan mutu akademik serta pencapaian Akreditasi Unggul, merupakan hasil kolaborasi seluruh unsur di lingkungan universitas.
Fondasi tersebut, kata dia, menjadi modal penting bagi para dekan yang baru dilantik. Terlebih, UAD akan kembali menghadapi proses akreditasi institusi pada 2027 sehingga masa kepemimpinan para dekan periode 2026–2030 akan berperan besar dalam mempertahankan dan meningkatkan capaian institusi.
"Kami berharap setiap fakultas menjadikan budaya mutu sebagai bagian dari budaya kerja sehari-hari sehingga akreditasi tidak dipandang sebagai kegiatan sesaat, melainkan sebagai konsekuensi logis dari tata kelola akademik yang unggul dan berkelanjutan," katanya.
Singgung Transformasi
Di tengah perkembangan kecerdasan artifisial, transformasi digital, ekonomi berbasis pengetahuan, serta semakin terbukanya jejaring kolaborasi global, perguruan tinggi dituntut terus bertransformasi. Muchlas menyebut, universitas tidak hanya diharapkan menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga insan yang kreatif, adaptif, berintegritas, dan mampu menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat.
Menurutnya, keunggulan universitas tidak lagi hanya diukur dari kualitas pembelajaran atau produktivitas riset. Perguruan tinggi juga perlu menunjukkan sejauh mana pelaksanaan catur dharma mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, memperkuat daya saing bangsa, dan berkontribusi terhadap kemajuan peradaban.
Untuk menjawab tantangan tersebut, UAD telah menetapkan arah pengembangan sebagai Community Services University. Konsep tersebut menjadi jati diri UAD dalam mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat, Persyarikatan, bangsa, dan kemanusiaan.
Komitmen itu kemudian dituangkan dalam Rencana Strategis UAD 2025–2045 yang disusun dalam lima milestone pengembangan. Para dekan yang dilantik mengemban tanggung jawab untuk mengawal pencapaian milestone pertama, yakni transformasi dan implementasi pengabdian kepada masyarakat yang terintegrasi dengan pendidikan dan penelitian serta dijiwai nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
"Pendidikan harus melahirkan solusi, penelitian harus menjawab kebutuhan masyarakat, dan pengabdian kepada masyarakat harus menjadi ruang implementasi ilmu pengetahuan sekaligus media dakwah Islam Berkemajuan," katanya.
Rektor meminta para dekan memfokuskan kepemimpinan pada lima agenda strategis, yakni transformasi catur dharma perguruan tinggi yang terintegrasi dan berdampak, pembangunan budaya akademik yang unggul dan adaptif, penguatan riset, inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia, peningkatan reputasi dan jejaring internasional, serta penerapan tata kelola fakultas yang profesional, berkelanjutan, dan berintegritas.
Ia menekankan, seluruh agenda tersebut harus tetap dilandasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai ruh kepemimpinan di UAD. Kemajuan teknologi, menurut dia, harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak dan integritas.
"Jadilah pemimpin yang dekat dengan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni, pemimpin yang mampu menginspirasi, bukan sekadar mengarahkan serta pemimpin yang berani mengambil keputusan strategis demi kemajuan fakultas dan universitas," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UAD, Prof Irwan Akib menyampaikan apresiasi kepada para dekan periode 2022–2026 atas dedikasi dan kerja keras yang telah diberikan. Ia juga mengucapkan selamat kepada para dekan baru serta berharap mereka dapat membawa perbaikan bagi fakultas dan universitas.
Irwan menegaskan seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan, kejujuran, keberanian dalam mengambil keputusan, serta keteguhan pendirian. Menurutnya, kepemimpinan juga harus dibangun melalui komunikasi yang mengedepankan prinsip saling memanusiakan, saling memuliakan, dan saling mengingatkan.
"Selamat untuk teman-teman yang baru saja dilantik, semoga dapat mengemban amanah dan bisa melakukan perbaikan-perbaikan di masa yang akan datang," ujarnya.